A YEAR AGO I MET YOU

Can you imagine it’s been a year ago today? 
And still I haven’t found a sure way
To break through your shell and become close to you
To get to know you and become a ‘close friend’
 
Can you imagine this? 
12 months ago I met you…Would you have gathered this? 
In 12 months two people can fall IN LOVE deep
In 12 months you can find a soul mate, best friend to keep
In 12 months you can go from making millions to only few
In 12 months you can build a castle or two, even
In 12 months you can change the world
 
Now, with all of these thoughts you’d think I won the prize
Unfortunately between us there’s been too much lost time 
That’s why it’s still a bit awkward and still strange to us
That’s why we haven’t gotten to that comfort zone of trust
Yet when I’m with you, that’s where I know I should be
 
So often I’ve gone back and questioned if I said anything wrong
Or if I did anything like came across too strong 
And after how long I’ve struggled to finally become me
I’ve asked myself “Why you acting like you doesn’t know me?”
But then I pulled my head together after 12 months to be exact
And I stopped questioning any of the qualities I might lack
 
So, I had to get my mind and emotions under control
Because this emotional rollercoaster has now gotten old
And sadly I accept that I am just not the one
And with that, dear you somewhere out there, this poem is DONE
 
(07 September 2011 ~ 07 September 2012)
Gyeongsang National University, Jinju – S. Korea
02:03pm
Advertisements

Hari-mu di Penghujung Ramadhan

Satu hari menjelang lebaran, biasanya aku sudah sibuk berkutat dengan bahan-bahan makanan. Kesibukan lazim yang sering terlihat di kathulistiwa. Jalanan ramai, dipenuhi para pedagang. Entah pedagang beneran atau hanya sekadar meramaikan pasar dan jalanan di detik-detik menuju lebaran.

Tapi kali ini, beda!Lebaran kelimaku di negri tak beragama ini, menyeretku untuk mewarnai sendiri kalender di meja ku. Tak ada kalender merah. Semua angka yang telah ku bulati dengan sepidol merah, harus kuganti dengan sepidol hitam dari nya.

Pagi ini, mentari juga tak malu menunjukan sinar nya. Setelah sukses bertengger di langit, mentari benar-benar menjadi raja. Sementara beberapa merpati, tampak mendampingi mentari di singgasana nya.

Tak ada lebaran, tak ada kesibukan jelang lebaran. Tak ada mudik. Mudik bagiku saat ini hanyalah dari jarak laboratorium menuju kontrakan kecil ku di sisi kampus. Dengan hati setengah ragu, masih ku kayuh sepeda tua peninggalan seorang kawan dari Brazil. Lebaran, seolah hanya mimpi buat ku dan mungkin beberapa mahasiswa lainya di negri ini.

Saat rekan lainya sibuk mempersiapkan lebaran, aku malah duduk mematung di depan sebuah layar monitor yang sedari tadi mengejawantahkan gambar-gambar yang tak kumengerti. Kuberanikan untuk membuka halaman word kosong. Suara merdu milik Az Yet yang sedari tadi mencumbui telinga ku pun perlahan aku kecilkan, agar lebih awas. Sudah kupersiapkan halaman lainya di Excell dengan tampilan ribuan angka dan grafik yang kubuat. Kalau-kalau ada bau tak sedap dari ruangan sebelahku, maka tampilan word ku akan kuganti dengan ribuan angka yang masih belum usai ku hitung.

Jemariku kini telah menari di atas keyboad komputer ku. Pelan, dengan irama yang juga masih tak ku ketahui. Berbait-bait kata membekas di layar ku. Tapi dengan satu tekanan panjang di atas tombol delete, semuanya terhapus, dan kembali putih, ibarat hati di bulan syawal.

“Selamat Ulang Tahun,” …Ah, masih tak elok rasanya, terlalu basi! pikirku dan langsung memblok tulisan ku dan menghapus nya.

“Happy birthday, sengil chukahamnida, Alles gutte, sana helwa, maligayang karawan”Masih sama, ternyata kata-kata dalam bahasa dunia pun masih terasa hambar buat ku, dan kembali ku hapus.

“kreeeeeeeeeeeeeeek…gubraaaaak!!!!”Suara engsel pintu penuh karat merengek pelan dari ruang sebelah, dan ditutup dengan suara keras bantingan pintu. “Hmmm dia datang” ucapku menenangkan hati. Dengan sekali klik, layar monitorku berubah menjadi tampilan angka dan grafik yang elok.

“How is your paper?” tanya seorang lelaki yang selalu ku panggil Prof.”I’m still working on it Professor. Here is my data and I’m still calculating some data” jawabku datar sembari memperlihatkan grafik-grafik yang telah kulukis.”Aaaah, i see. ok go on. We don’t have time. I’m so busy and I’m afraid I couldn’t check your paper. So’ hurry up!!!” tutup nya dengan tubuh yang melamat di balik pintu.

Aaaaaah, benar-benar tak ada waktu buat ku. Tak ada ketupat lebaran yang biasanya ku masak bersama rekan Indonesia lainya di rumah. Tak ada kue lebaran. Hanya tumpukan paper dan jurnal yang harus kuselesaikan segera.

Kututup halaman word yang masih kosong dan kembali mengutak-atik ribuan angka yang ku punya. Tak ada rangkaian kata tertulis. Tak ada kata terucap.

Kusempatkan memicingkan kedua mata ku. Berusaha membayangkan sosok seorang kawan dari kaum Adam yang tengah bahagia di hari nya. Dalam satu tarikan nafas, kumasukan rajutan doa yang kupunya dalam kotak biru. Ku balut rapi dengan sutra para dewi kayangan, dan kusimpul dengan seutas cinta Sang Khaliq. Meminta-Nya mengirimkan kotak biru ku pada seonggok hati  seorang Adam di Khatulistiwa.

Mentari masih menjadi raja semesta, dengan sinar menyengat panas di langit Jinju. Harum syawal perlahan tercium dan memenuhi relung. Meski raga harus duduk mematung dalam kubikel meja kerja ku, namun hati jauh berkelana menyambut syawal-Nya.

Ps. teruntuk seorang kawan (Jinju, 18 Agustus 2012, 11:10am)

Asing

image

Seseorang hadir dengan membawa sebentuk cinta yang terpahat rapi dalam sebuah kantung bertajuk hati.

Sebuah kantung jingga yang dulu sempat kusimpan, meski tak ku jaga dengan baik.

Kantung yang selalu berisi penuh cinta, yang sengaja kulubangi hingga cinta-cinta itu berhamburan, berceceran.

Kini, kantung itu kosong! Tak ada lagi cinta. Kecuali seonggok hati tak bernyawa, yang tak lagi dapat ku kenali.

Long-Haired Girl

Image

Long-haired girl,
Busy enjoying the universe from the rooftop
Her eyes explore every inch
While both of her ears are playing
with each beat from pair of earphone that clung on her ears
 
Long-haired girl,
She’s been here since 365 days ago
Bring hopes and dreams
Carry the love on her arms
The love that still wrapped in the green box
 
Long-haired girl
Playing on the courtyard of the poetess’s heart
Her fingers danced over the strings of a guitar
Her string is a soothing tone of every soul
 
Long-haired girl,
Always hiding behind her flowing hair
Both of her eyes are never looked me in the eye
Each time the word is spoken
 
Long-haired girl,
Guitar, and
Melody
Playing in the ground of the heart
With verses of love songs
 
No words spoken
There was no trail of view
But from all her heart rhythm
I am able to sing
 
Because me and her
We dressed in the same rhythm
Love rhythm of the goddess
 
(Jinju, 12082012 05:25pm)