Aku hanya bisa tertunduk tiap kali retina kita beradu. Tatap tajam mu selalu mampu menyeruput ku bulat-bulat. Sementara aku, hanya terdiam dan tenggelam di dalam nya.

“I love you Nay” ucap mu lirih sembari mengisi setiap celah kosong jemariku dengan jemari kekar mu dan masih dengan tatapan yang mengejawantahkan beribu makna.

“I love you too Bei” jawabku dalam tatap yang tak jelas arah nya.

Kau terus memandangku, kita duduk berhadapan di sudut sebuah cafe sambil menikmati kebocoran langit sejak 1 jam yang lalu. Tatapan mu menjelajahi seluruh wajah ku. Kaki kita beradu, dan jemari kita bersatu. Ada kehangatan yang selalu aku dapat di sana. Kehangatan yang hanya kudapati dari seorang Betran. Lelaki tampan, berkulit sawo matang, sopan, dengan gingsul yang menyeringai tiap kali ia tersenyum.

Aku tahu, tak seharusnya ini terjadi. Aku juga tahu dosa ku pun bertambah tiap kali aku menyelami dua samudra ini. Otak ku tak lagi mampu mencermati situasi gila ini. Hati bak seekor predator yang dengan buas melahap habis puing-puing otak. Ya, hati memang pemenang nya, ia mendapatkan apa yang ia mau. Ibarat sepucuk daun, aku tak mungkin memilih hujan dan matahari. Bagaimana aku memasak makanan ku, jika setiap hari harus hujan? dan bagaimana aku bisa tumbuh jika aku kering saat memilih matahari.

“Nay, kamu melamun?” suara berat mu menyeruput daun telingaku.

“Eh, enggak kok. Kamu mau pesen kopi lagi Bei? atau mau nambah cake?” jawabku sembari berusaha mengusir sebentuk paras yang perlahan melamat di ujung pikiran ku.

“Nggak, aku udah cukup. Kamu kenapa sih? Ada masalah?” lagi kau bertanya dengan tatap mata yang mencari jawab dari ku.

“Nggak kok, aku cuma lagi mikir, aku pasti bakal kangen kamu Bei, kalo kamu berangkat ke Italy nanti” ucapku, kali ini dengan merekatkan jemariku di lengan berselimut kaus biru dongker yang aku beri sebagai hadiah ulang tahun mu tahun lalu.

“Aku juga pasti kangen kamu Nay”

“Kalau kita menikah sebelum keberangkatan ku ke Italy gimana? So’ kita ga bakal jauh-jauhan. Please Nay, will u marry me?” kali ini rajutan kata-katamu seolah mencambuki hati ku.

Bagaimana mungkin aku menikah dan menyerahkan seluruh hidupku untuk seorang Bei? Aku tau, hati ku pun tau, Bei adalah pria sempurna yang aku kenal. Kehangatan yang selalu menyelimuti hati ku dari Bei, kadang terguncang hanya dengan sebuah senyum simpul yang selalu mengalirkan arus lemah di jantung ku. Hingga ada debaran-debaran dengan energi yang luar biasa, saat senyum itu datang menyapa.

Matahari dan Hujan, dua keadaan yang tak dapat ku pilih. Hingga keduanya hilang, dan aku pun perlahan mati dalam kerakusan hati.

 

Advertisements