Tubuh ini masih duduk mematung di hadapan sebuah monitor flat yang dibagikan universitas sebagai hadiah kepada setiap laboratorium yang ada di kampus tersebut. Beribu kata tak terucap, beribu tanya [pun] masih tak terjawab. Sekantung rasa yang tak jelas menggelayuti hati yang kian rapuh menua. Masih, tak bisa diejawantahkan dalam kata maupun rupa. Sedih, yang juga masih tak jelas juntrungan nya.

Langit hitam menyelimuti Jinju dengan tak satu pun bintang menghias. Langitku bocor, arakan awan tak mampu menampung nya, hingga tumpah ruah memerawani tanah tak berbatu.

Dalam satu tarikan nafas, kudorong kursiku menjauhi meja kerja laboratirum yang mulai tampak lengang. Menarik gagang pintu dan mendapati hujan ku di ujung lorong. Tak banyak yang kulakukan, hanya diam mematung dan membaui senggama hujan dan tanah.

Jiwa ini kosong Tuhan…banyak yang tak kumengerti, termasuk sekantung rasa yang masih terus menggelayuti hati renta ini. Sedih, meski aku sendiri tak tahu kesedihan apa ini??? Menyesap dingin, ternyata kelopak mata ini pun tak mampu menampung debit air mata yang membanjiri pipi.

Masih, membawa sekantung rasa di hati, dengan air mata ku berjalan dalam hujan. kali ini hujan tak hanya membelai kulit ku. Tanah, dan aku, kami bercinta dengan hujan di ujung sebuah kampus tua tanah Ginseng..

 

 

Advertisements