Satu hari menjelang lebaran, biasanya aku sudah sibuk berkutat dengan bahan-bahan makanan. Kesibukan lazim yang sering terlihat di kathulistiwa. Jalanan ramai, dipenuhi para pedagang. Entah pedagang beneran atau hanya sekadar meramaikan pasar dan jalanan di detik-detik menuju lebaran.

Tapi kali ini, beda!Lebaran kelimaku di negri tak beragama ini, menyeretku untuk mewarnai sendiri kalender di meja ku. Tak ada kalender merah. Semua angka yang telah ku bulati dengan sepidol merah, harus kuganti dengan sepidol hitam dari nya.

Pagi ini, mentari juga tak malu menunjukan sinar nya. Setelah sukses bertengger di langit, mentari benar-benar menjadi raja. Sementara beberapa merpati, tampak mendampingi mentari di singgasana nya.

Tak ada lebaran, tak ada kesibukan jelang lebaran. Tak ada mudik. Mudik bagiku saat ini hanyalah dari jarak laboratorium menuju kontrakan kecil ku di sisi kampus. Dengan hati setengah ragu, masih ku kayuh sepeda tua peninggalan seorang kawan dari Brazil. Lebaran, seolah hanya mimpi buat ku dan mungkin beberapa mahasiswa lainya di negri ini.

Saat rekan lainya sibuk mempersiapkan lebaran, aku malah duduk mematung di depan sebuah layar monitor yang sedari tadi mengejawantahkan gambar-gambar yang tak kumengerti. Kuberanikan untuk membuka halaman word kosong. Suara merdu milik Az Yet yang sedari tadi mencumbui telinga ku pun perlahan aku kecilkan, agar lebih awas. Sudah kupersiapkan halaman lainya di Excell dengan tampilan ribuan angka dan grafik yang kubuat. Kalau-kalau ada bau tak sedap dari ruangan sebelahku, maka tampilan word ku akan kuganti dengan ribuan angka yang masih belum usai ku hitung.

Jemariku kini telah menari di atas keyboad komputer ku. Pelan, dengan irama yang juga masih tak ku ketahui. Berbait-bait kata membekas di layar ku. Tapi dengan satu tekanan panjang di atas tombol delete, semuanya terhapus, dan kembali putih, ibarat hati di bulan syawal.

“Selamat Ulang Tahun,” …Ah, masih tak elok rasanya, terlalu basi! pikirku dan langsung memblok tulisan ku dan menghapus nya.

“Happy birthday, sengil chukahamnida, Alles gutte, sana helwa, maligayang karawan”Masih sama, ternyata kata-kata dalam bahasa dunia pun masih terasa hambar buat ku, dan kembali ku hapus.

“kreeeeeeeeeeeeeeek…gubraaaaak!!!!”Suara engsel pintu penuh karat merengek pelan dari ruang sebelah, dan ditutup dengan suara keras bantingan pintu. “Hmmm dia datang” ucapku menenangkan hati. Dengan sekali klik, layar monitorku berubah menjadi tampilan angka dan grafik yang elok.

“How is your paper?” tanya seorang lelaki yang selalu ku panggil Prof.”I’m still working on it Professor. Here is my data and I’m still calculating some data” jawabku datar sembari memperlihatkan grafik-grafik yang telah kulukis.”Aaaah, i see. ok go on. We don’t have time. I’m so busy and I’m afraid I couldn’t check your paper. So’ hurry up!!!” tutup nya dengan tubuh yang melamat di balik pintu.

Aaaaaah, benar-benar tak ada waktu buat ku. Tak ada ketupat lebaran yang biasanya ku masak bersama rekan Indonesia lainya di rumah. Tak ada kue lebaran. Hanya tumpukan paper dan jurnal yang harus kuselesaikan segera.

Kututup halaman word yang masih kosong dan kembali mengutak-atik ribuan angka yang ku punya. Tak ada rangkaian kata tertulis. Tak ada kata terucap.

Kusempatkan memicingkan kedua mata ku. Berusaha membayangkan sosok seorang kawan dari kaum Adam yang tengah bahagia di hari nya. Dalam satu tarikan nafas, kumasukan rajutan doa yang kupunya dalam kotak biru. Ku balut rapi dengan sutra para dewi kayangan, dan kusimpul dengan seutas cinta Sang Khaliq. Meminta-Nya mengirimkan kotak biru ku pada seonggok hati  seorang Adam di Khatulistiwa.

Mentari masih menjadi raja semesta, dengan sinar menyengat panas di langit Jinju. Harum syawal perlahan tercium dan memenuhi relung. Meski raga harus duduk mematung dalam kubikel meja kerja ku, namun hati jauh berkelana menyambut syawal-Nya.

Ps. teruntuk seorang kawan (Jinju, 18 Agustus 2012, 11:10am)

Advertisements