Satu, dua, tiga, …

Kau memulai langkah mu hari ini. Dengan senyum mengembang, kau terus berjalan menyusuri jalanan hijau di selatan Korea. Beberapa jemari dari sebelah tangan mu menari menghentak mengikuti setiap dentuman musik yang sedari tadi mencumbui telinga mu melalui pengeras suara berwarna merah yang menyangkut di kedua indera pendengar mu.

Mentari pagi itu begitu cerah. Tersenyum gagah dengan pancaran sinar yang cukup panas tuk sekadar menyambut pagi. Awan putih berarak tenang, menjadi latar yang elok bagi mentari. Dari balik kaca mata hitam yang menggelayuti hidung mu, kau melahap pagi di sekitar mu tanpa ampun.

Ada senyum yang kau lukis. Senyum yang tak pernah ada untuk ku, sejak musim dingin membekukan hatimu di penghujung desember tahun lalu. Tapi hari ini, aku bisa rasakan senyum pagi mu. Senyuman untuk satu kebahagiaan di usia baru mu.

Aku bukan sesiapa yang berhak melebur dalam bahagiamu. Aku bukan sesiapa yang diperbolehkan mencicip secuil rasa hati biru mu. Aku bukan sesiapa bagi mu, meski hasrat menyatukan kita dalam setiap irama tercipta.

Dari balik sebuah monitor tua, aku mengintip mu hanya tuk pastikan, kau bahagia di hari bahagia mu. Ku lukis sebentuk senyum untuk mu dan memasukan rajutan doa dalam sebuah kantung berwarna jingga dari hati terdalam ku. Seutas cinta ku ikatkan di sana, dan meminta Tuhan mengirimkan nya pada mu.

Di hadapan sebuah monitor tua dari dalam sepetak kamar, ku lukis senyum dan merajut doa di hari bahagia mu. Selamat Ulang Tahun Adinda!

ps: teruntuk seorang kawan di sudut kota Jinju – Korea

Jinju, 29 Juli 2012 @07:47pm

Advertisements