image

Senja merah kian meredup di langit Gyeongsang National University. Mentari yang sejak pagi bertengger di langit, perlahan tenggelam bersama beberapa ekor merpati yang menggiringnya. Sementara angin dingin perlahan membungkus langit yang menghitam dengan purnama menggantung anggun. Geraknya sangat lambat seolah tak ingin ada gumpalan langit yang terlewat dari kejar sang angin. Dingin, tak hanya membekukan semesta di Jinju, namun juga sebentuk hati yang kian mengeras, membuat sang empunya hanya terdiam tanpa kata-kata.

Kau ada di sana. Duduk membisu bersembunyi di balik rambut yang tergerai. Sebelah tangan mu hanya mengaduk-ngaduk secangkir kopi di hadapan mu. Sesekali jemarimu menyentuk handphone hijau yang tergeletak tanpa dering.

Kau memang tak pernah bisa menghargai aku. Bahkan sedikit saja, kau pun tak bisa. Kau terus bergumul dengan pesan-pesan singkat yang masuk di hand phone mu, meski kita, kau dan aku tengah menenun rajutan kata untuk kita jadikan pedoman.

“You say that you love me, but you complained about me. Love means acceptance i think”katamu mencambuki setiap kata yang sebelumnya kuucapkan, agar kata-kata itu tak lagi keluar dari mulut ku.

“Yes I love you as my sister, and love also hurt sometimes”  ucapku coba mendefinisikan kata yang belum  juga kutemukan makna sebenarnya.

“What’s the point?” tanya mu [masih] dalam diam dengan mata yang tak pernah menatapku.

“Take and give. You’re right, love is acceptance, but if we hurt someone from the way we treat them, would it still be love? love is completing each other not for being understand, but also understanding each other” kataku santai sambil terus mencari rautmu, karena kini ku seolah berbicara dengan rambut panjang tak ber wajah.

Tak ada kata terucap.  Tapi gerakmu, aku tahu ada penolakan di sana. Raut yang selalu kau sembunyikan. Senyum yang tak lagi pernah tersungging. Pesan yang tak lagi kau hiraukan. Bahkan kau memaksa mata mu untuk segera melirik sudut lain saat aku melintas di hadapan mu. Musim dingin di penghujung tahun 2011 benar-benar  membekukan hati mu tanpa ampun. Kehangatan pertemanan, kucuran kasih sayang persaudaraan dan percikan cinta di sekitar mu pun tak mampu melelehkan hati yang kian membeku, keras bagai batu.  Segudang tawa yang sempat kita lukis tak lagi tersimpan dalam kantung hati mu. Bahkan kantung itu sengaja kau robek, agar semuanya jatuh, hilang.

Tiga bulan kau membisu dan tak lagi menyapa ku. Kusapa pun kau hanya terdiam, tak mau melihat meski aku nyata di depan mu. Baiklah adinda, aku akan melanjutkan penjelajahan ku di Negri ini. Bermainlah di dunia mu sendiri, agar tak banyak jiwa menyentuhmu. Tak perlu kau siram luka ku dengan jeruk nipis yang kau peras dari senyum sinis mu. Tak perlu kau beri aku kartu kuning agar ku tak bermain di jiwamu. Ambilah, ambil sesukamu. Biar kutuntaskan tugasku.

Musim berganti  dengan membawa hangat mentari. Angin tak lagi menyelimuti Gyeongsang National University. Mentari kembali memanjakan bumi dengan sinarnya, mencumbui tanah dan rerumputan. [Lagi] kau ada di sana, kali ini dengan celana pendek dan kaca mata hitam menggelayuti hidung mu. Terlalu hitam, hingga tak kudapati bola matamu di sana, namun pasti kau sudah mengulitiku dari balik kaca mata hitam mu.

Mentari memang hebat. Meski hanya tergantung menghias langit, jauh. Sangat jauh! Namun seonggok hati mulai lumer karena sengat nya. [Lagi] kau tersenyum, senyum yang lebih dari 3 bulan tak pernah ku lihat. Tapi siang itu, wajahmu melukis senyum, meski bukan untuku. Kini kau berbeda, kau sibuk menata hati dan menjalin rasa dengan banyak orang. Tingkah mu pun terlihat berlebih. Kalau hanya untuk membuatku iri, maaf aku hanya bisa tersenyum dan berharap semoga kau bahagia dengan kehidupan barumu. Lebih ramai, tanpa protes, tanpa aku!

“Hello, how are you? Just wanna ask if you have free time next Sunday, I wanna have coffee …”sebuah pesan pendek memenuhi layar monitorku. Dalam sekejap, kata-kata itu tersimpan dalam benaku.

Kuseruput coffe latte dan menyisakan bercak di bibir cangkir. Kau tampak berbeda, begitu hangat dengan minuman hangat yang menjalar di tubuh mu. Kau banyak bercerita, kau tersenyum, meski [masih] tak melihat ke arah ku yang duduk berseberangan dengan mu.

Kau sisipkan cerita yang menggelitik relungku. Seorang kerabat dekat mu, protes dengan sifatmu. Persis seperti yang kulakukan dulu saat salju putihkan Jinju dan membungkus hatimu rapat-rapat. Kali ini, bahkan ia memakimu, kata-katanya lebih tajam. Tapi dengan cinta, kau datangi ia, menyapanya dengan ramah dan memberinya potongan hati mu, meski hanya secuil.

Sekarang, kau kembali, membawa kotak berisi cerita masa lalu yang dulu sempat kau buang. Kau tata kembali, rapi dengan sulaman di hati  yang dulu sempat kau robek sendiri dalam dingin. Sementara aku, masih mematung, takut luka ini kau cumbu lagi dengan cuka senyum mu. Dulu, kau lahap habis cinta yang  kuberi lantas kau buang bak makanan sisa. Aku tak punya cinta lagi sekarang. Di balik selimut malam, ku bersembunyi dari kejaran bayang. [masih] dengan luka yang sama, tertutup debu karena sudah terlalu lama, tersimpan dalam ruang kosong yang tak lagi terjamah cinta.

 

Advertisements