Matahari sudah terlalu tinggi untuk sekedar say good morning, terangnya pun telah hangatkan jagad ini dengan sempurna. Tubuh ini masih betah tergulung selimut di sebuah kamar apartemen di jantung kota Seoul. Mata ini pun masih terkatup rapat seolah tak mempedulikan sinar mentari yang coba menembus di pelupuk mata.

“Bila memang, ku yang harus mengerti
Mengapa cintamu tak dapat ku miliki
Salahkah ku bila
Kau lah yang ada di hatiku”

Lagu untitled yang dipopulerkan Maliq & D’essentials mengalun dan mengejutkan ku sesaat setelah jiwa serasa kembali melayang dalam balutan selimut putih tua bercorak abstrak.

“Halo, sapa nih?’ sapaku dengan sedikit malas. Tampak nomor tak di kenal memenuhi layar telepon selulerku.
“Rhaf, ini gue Didan, loe ke kampus nggak hari ini?” sapa seseorang di ujung sana dengan suara berat mirip penyanyi jazz.
“Eh, Dan, gue kira siapa, nomor loe aneh, gue baru bangun, masih di rumah, nanti agak sore-an mungkin ke kampus. Kenapa?”
“Tumben loe nggak nge-lab, gue ke rumah loe ya sekarang. Ada hal penting banget yang mau gue omongin sama loe”
“Yoi, prof lagi kunjungan kenegaraan hehehe. Gue nitip bawain roti tawar sama mie goreng kalo loe kesini”
“oke-oke, see ya”
Dan “Tuut, tuut, tuut” telepon pun ditutup.

Kali ini pancaran mentari benar-benar menembus ruang, sinarnya memenuhi kamar berukuran 4x5meter persegi saat kusibakan tirai merah hati yang sedari tadi melindungiku dari sengat mentari. Tampak orang-orang tengah ramai beraktifitas. Lalu lalang kendaraan pun tampak hilir mudik memenuhi jalan kota. Sembari mengumpulkan nyawa dan mengembalikan penglihatan yang sedari tadi masih setengah terpejam, ku biarkan tubuh ini bermandi mentari dan menikmati secangkir café latte dari lantai 7 gedung apartemenku.

Aku memang beruntung bisa menempati apartemen mewah. Kalau bukan profesorku yang baik hati yang sudah mempercayakan apartemennya aku pakai, mungkin asibku sama dengan mahasiswa lainnya, tinggal di asrama, atau menyewa kamar kos-kosan atau malah memilih tinggal di lab seperti anak Indonesia lainnya.

Belum lagi rokok yang terselip di jemariku habis, terdengar bel berbunyi. “pasti Didan, tebak ku sembari memfokuskan retinaku pada objek di depanku melalui peephole viewer yang ada di pintu apartemen”. Yup, tebakan ku benar, sosok Didan dengan kacamata ber-frame hitam sedikit tebal menggelayuti wajahnya yang tertutup topi pet hitam di kepalanya.

“Masuk Dan” kataku sembari menymbar bungkusan di tangan kirinya. Didan masih sibuk membuka tali sepatunya dan menaruh telepon selulernya dalam kantung celana jeans yang dikenakannya.

“Rhaf, gue punya kabar baik buat loe, tapi sebelumnya loe buatin gue mie goreng super pedas” pintanya sembari menyambar gelas berisi air putih yang sudah ku tuangkan untuknya.

“Entar dulu, gue harus tau loe mau kasi gue kabar apa? Kalo ternyat kabar loe jelek atau nggak mengenakan hati dan ngebete-in ngapain gue musti capek-capek masakin loe mie goreng men” kataku sembari menarik kursi dan duduk di hadapan Didan.

Well, Didan ini sahabat terbaik ku. Kami berasal dari SMA dan universitas yang sama di Indonesia. Bersama-sama bertaruh demi mengejar status mahasiswa di salah satu universitas di negri ginseng. And here we are, kami benar-benar di Korea, belajar di kampus yang sama, jurusan yang sama hanya terpisahkan lab dan focus penelitian yang berbeda. Didan memilih kontrol robotik, sementara aku memilih untuk mengutak-ngatik mesin pesawat.

“It’s about your girl man, cewe yang loe liat di acara international day waktu itu. Gue dapet info berharga buat loe, kata temen lab gue, doi suka keliatan di gangnam yok tiap kamis sore jam 6”

“Serius loe, salah orang kali, kok temen loe bisa tau itu cewe yang sama yang kita liat waktu itu?”

“Gue ga sengaja liat koleksi foto temen gue di komputernya, eh.. ada foto cewe kecengan loe, pas gue Tanya ini siapa? Dia bilang dia juga ga tau, Cuma iseng aja foto-foto dan kebetulan jadi suka ketemu di gangnam yok tiap kamis sore”

“Hmmm…”
“Sekarang loe bikinin mie goeng super pedes gue, karna gue bakal kasi loe satu surprise lagi” Sambung Didan sembari melemparkan serbet ke mukaku yang masih tampak kebingungan dengan semuanya.

Didan tampak sibuk mencari sesuatu dalam tas nya, sesekali tampak ia mengerutkan keningnya seolah memikirkan sesuatu. Sementara aku, masih harus menyiapkan segala bahan racikan mie goreng super pedas untuk Didan. Well,Didan memang cukup menggemari mie goreng buatanku dengan racikan khusus yang aku pelajari dari mama.

Sembari membantuku menyiapkan piring dan gelas, tampak Didan menggenggam sesuatu di tangan kanan nya yang sedari tadi ia sembunyikan di balik tubuhnya, seolah tak mau aku mendapati apa yang ia sembunyikan.

Sebelum suapan pertama mie goreng melesat, Didan pun meyodorkan selembar foto pada ku.

“This my special surprise for you dude” ucapnya sembari kembali menarik tangannya dan seolah memberi isyarat pada ku untuk segera membalik dan melihat foto siapakah gerangan.

“Didaaaaaan, kok loe bisa punya foto ini?” teriakku seketika setelah mendapati paras cantik yang terlukis sempurna dalam foto tersebut. Ya, ini foto gadis yang aku lihat saat di acara international day dua bulan silam di kampus ku. Aku sendiri tak pernah mengetahui gadis ini siapa dan fakultas mana? Yang pasti aku tau, gadis manis pemilik suara keren ini pasti dari Indonesia, at least asia, paras nya cukup oriental, dengan kulit yang sedikit kecoklatan, rambut tergerai panjang, dan berpenampilan sedikit ethnic hari itu. Persis sama dengan setelan yang ia kenakan dalam foto ini.

“Gue minta file nya dari temen gue dan cetak di tempat cetak foto dekat student center” sambungnya dengan mie goreng yang telah memenuhi mulut nya. Sedikitpun ia sudah tak peduli lagi dengan aku yang tersihir oleh foto yang ia bawa.
***
Aku mempercepat langkahku menuruni anak tangga gangnam yok, sesekali aku melirik ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kanan ku. Aku masih punya waktu sekitar 4 menit lagi sebelum pukul enam sore. Kali ini aku harus berhasil bertemu dan berkenalan dengan gadis itu, setelah aku mencoba menunggu nya sejak tiga pekan lalu. Awalnya aku sempat putus asa, karena aku piker ini pasti hanya akal-akalan Didan untuk membuatku berlari-lari dari lab ke yok hanya untuk bertemu gadis manis itu.

Aku berdiri tepat beberapa centi dari yellow line gangnam yok, menunggu subway yang melaju ke arah jamsil. Aku berdiri tepat pada pintu subway nomor 6-3. Sedikit bibir ku berkomat-kamit, yaa…aku memang sedang membacakan beberapa doa, mohonku agar dapat bertemu gadis itu.

Dua subway berlalu sudah, namun aku tetap tak mendapati dirinya di tengah ramainya kerumunan penumpang, baik yang akan naik maupun yang turun dari subway. Allright, mungkin Didan salah, mungkin bukan di pintu 6-3 ini, dalam hati aku memutuskan untuk menyusuri pintu lainnya dan menunggunya, meski jam sudah menunjukan pukul 18:07 waktu korea selatan.

Angin di penghujung autumn tahun ini menembus dingin setiap celah dinding stasiun. Beberapa langkah sejak aku beranjak dari pintu 6-3, aku melihat sosok yang aku cari. Ya, itu dia, itu wanita yang sama. Ia tengah duduk di bangku sudut dekat vending machine. Jeans biru dengan kaus putih terbalut jaket tebal berwarna biru dongker, syal dengan warna senada membelit lehernya dan menyisakan sedikit parasnya di balik syal nya tersebut. Sepatu kets berwarna putih, dengan tas ransel kulit berwarna coklat tua sementara di tangan kirinya ia membawa sebuah case biola berwarna hitam.

“Hi, do you know how to get gwangnaru station from here?” sapaku seolah tak tau jalan.
“you can take this subway and you need to transfer in konkuk university station, and take the green dark line (line number 7 if im not mistaken) and go to junggok station, only 1 station then u need to transfer again to the purple line and take subway go to gwangnaru station. You can take this map if you need” paparnya panjang sembari menyodorkan subway map padaku.

“ Oh, thanks. If you don’t mind, sure I need the map. Anyway, my name is Rhafa from Indonesia, and you?” lanjutku sembari menyodorkan tanganku.
“Aaaah, my name is Anindita, gue juga dari Indonesia kok” sambungnya dengan ramah.
“Ooooh, sorriii, gue kira loe bukan dari Indonesia, gue kira loe dari philipin atau asia lainnya laaaah…Kuliah dimana? Gue harus panggil loe apa nih? Anin, Dita or ..?”
“Panggil gue Indi aja. Gue kuliah di gwangju, cumin sekarang kebetulan lagi ada projek dari professor di Seoul, so gue harus stay di Seoul untuk beberapa bulan”
“Kok gue bisa ga tau ya ada anak Indonesia, I mean, gue ga tau Anindita di gwangju”
“Loh, emang smua orang harus tau loe ya? Sapa loe mister?”
“Iya siiih, sapa gue hehehe”

Tampak Indi sangat gelisah sembari terus melirik ke jam tangan nya. Kali ini dia tampak benar-benar gelisah hingga akhirnya …

“Rhaf, gue duluan ya, kayaknya gue ga jadi naik subway, ada yang harus gue kerjain, bye”
“Oh, oke ndie,gue boleh minta no hape loe ga?”
“Gue buru-buru, minggu depan jug ague bakal ada disini lagi di jam yang sama” sambung Indie sambil setengah berlari meinggalkan ku.
“Oke ndie, take care see you next week” jerit ku dan tak lagi mendapati Indie pada titik terjauh penglihatanku.

***

Sejak pertemuanku dengan Indie, kami memang sering bertemu. Sudah menjadi jadwal rutin ku untuk menemuinya setiap kamis sore di tempat dan pintu yang sama juga di jam yang sama. Namun entah mengapa Indietampak begitu aneh, lagi-lagi ia tergesa-gesa dan pertemuan kami tak pernah berlangsung lama, hanya sekitar 6-10 menit.

Indie masih sama, manis, dan selalu menggunakan jaket, syal, sepatu, tas dan biola yang selalu ia bawa setiap kami bertemu. Hampir 2 bulan sudah kami bertemu, dan melakukan pertemuan singkat yang sama. Meski ada yang mengganjal di hatiku, tapi aku cukup senang tiap kali bertemu dengan nya. Tak sengaja ada cinta yang tumbuh menempel di hatiku. Yaaa, meski tak begitu mengenal nya, but I love her, I do love her.

Minggu ke 10 sejak pertemuanku dengan Indie, aku berniat mengutarakan isi hatiku. Aku juga sudah mengatakan niatku ini pada Didan, dan berniat mengajak Didan untuk ku perkenalkan dengan Indie. Hari ini masih sama dengan minggu-minggu sebelumnya kamis sore di minggu ke-3 November. Kali ini aku sudah berada di gangnam yok bersama Didan sejak pukul 17:50. Kembali kami menunggunya di bangku sudut dekat vending machine persis 5 langkah dari pintu subway 6-3.

“Sabar ya Daan, bentar lagi pasti Indie dateng, di selalu sampai tepat pukul 18:00 atau 18:07. Sekarang masih jam enam kurang 5, bentar agi dia dateng” kataku pada Didan yang sudah tampak mulai gelisah. Didan memang orang yang paling tidak suka menunggu.

“Iyaaaa…gue ke hwajangsil dulu ya, ntar gue balik lagi. Gue kebelet niiih” lanjut Didan sembari menepuk bahu kiriku.

Tak lama kemudian, Indie sampai masih dengan stelan nya yang sama. Paras cantiknya sore ini meyakinkanku untuk mengutarakan cinta yang tumbuh dan seolah memenuhi hatiku.

“Ndie, ada yang pengen gue omongin ke loe, serius. Loe bisa nggak kalau hari ini kita makan malem bareng, skalian gue pengen ngenalin loe sama sahabat gue Didan, yang suka gue ceritain ke loe, please..” kataku membuka pembicaraan kami.

“Gue ga bisa Rhafa, gue ga punya banyak waktu, sorry”
“Kenapa si ndie, loe selalu terburu2 tiap kali kita ketemu, dan loe selalu cuma available untuk 6-10 menit doang, knapa sih kita selalu ketemu kamis doang, emang loe sibuk banget ya meski weekend?”
“Ada hal yang serius dan penting yang harus gue kerjain Rhafa, dan gue ga bisa jelasin ke loe. Yang jelas gue punya alasan sendiri kenapa gue ga bisa ketemu loe, dan gue hanya punya waktu bentar buat ketemu bareng loe”
“Gue ga boleh tau ya?”
“waktu gue udah mau abis nih, gue harus pergi”
“Tungguin bentar dong ndiie, Didan lagi ada di kamar mandi bentar lagi juga sampe sini, gue Cuma mau kenalin loe sama Didan”
“Gue ga bisa Rhafa, gue udah bener-bener harus pergi sekarang, oke see you next week” tuturnya sembari meningglkan aku yang masih berdiri di dekat vending machine.
“Indie … Anindita…gue sayang loe, I love you, I just wanna say that I love you” teriakku pada Indie yang semakin menjauh dan hilang dari pandanganku.

Sesaat ku lihat Indie berbalik saat aku menyerunya, dan ia hanya tersenyum dan kembali berlari lantas menghilang di tengah kerumunan penumpang yang baru turun dari subway.

Tak lama kemudian, Didan kembali menghampiri ku dengan mata yang masih celingukan melihat sekitar.

“Kemana aja si loe Dan, Indie baru aja pergi, gue kan udah bilang dia ga pernah bisa lama-lama” cecar ku saat Didan menghampiriku.
“Sorriiii, kelamaan ya? Gue dari toilet, toiletnya jauh, harus nyebrang stasiun Rhaf, lagian masa sih Indie ga mau nunggu bentar?Minggu depan gue janji ketemu Indie deh”
Lanjut Didan sembari merangkul ku yang masih kesal entah karma Didan atau karma Indie yang selalu tak punya banyak waktu.

Tiba-tiba lampu stasiun tampak meredup seolah kehilangan powernya. Common man, its Korea, ga aka nada musim mati lampu disini kan? Tapi perlahan lampu-lampu meamng tampak meredup dan orang-orang berlalu lalang tampak sepi. Samar-samar aku melihat sosok Indie.

“Emang loe jodoh Dan, tuh Indie dateng lagi, ntar loe gue kenalin sama dia” kataku sembari mengecilkan sudut mataku untuk mendapati Indie dalam temaram lampu yang sedikit meredup.
“Indie, loe ada waktu sekarang?kita makan malam bareng ya” sapa ku pada Indie yang kini tengah berada di antara aku dan Didan.
“……” Indie tak banyak bicara ia hanya sedikit menganggukan kepalanya.
“Oh iya, Indie, ini Didan, sahabat gue yang selalu gue ceritain ke loe. Dan Didan, ini Indie wanita yang juga selalu gue ceritain ke loe” aku memperkenalkan Didan dan Indie.
“Indie? Ini elo?” sapa Didan
“loh, kalian udah saling kenal sebelumnya?” sambungku sembari menatap Didan.
“Ini yang mau gue jelasin ke loe Rhafa, kenapa gue selalu ga punya banyak waktu” sambung Indie.
“kalian bukan pacaran kan? Ini kenapa lagi stasiun kok lampunya redup gini, kita pindah aja yuk, kita ngobrol sambil jalan cari resto sekitar sini”

Tak ada yang menyaut, dan tak ada yang bergerak meninggalkan stasiun ini. Dan tiba-tiba seolah ada sekelebat cahaya dan tiba-tiba aku seolah mendengar teriakan orang meminta tolong dan beberapa orang ku lihat sibuk berlari.
“Rhafa, kamu inget kejadian itu?” sambung indie
“kejadian apa?” kataku bingung
“Rhafa, mending sekarang loe bangun, dan kembali, pulang Rhaf…” lanjut Didan.
“bangun, pulang, kalian apa-apaan sih, gue ga ngerti, kita pindah aja yuk” sambungku membantah kata-kata Didan.
“Rhafa, loe inget nggak kejadian di subway ini? Saat itu tiba-tiba ada korslet dan terjadi kebakaran disini?” lanjut Indie
“Tunggu-tunggu…kebakaran? Subway, yaaaa gue inget, tapi loe ga apa-apa kan Didan? Lantas apa hubungannya dengan kita?” lanjutku
“Didan, bangunlah, dan kembali kea lam mu” kali ini kata-kata Indie membuatku tersentak
“Alam gue? Jangan bilang kalo loe sama gue…. Nggak, nggak, ini nggak mungkin. Loe ngomong apa siiii Ndie? Gue nggak ngerti”
“Rhafa, biar gue jelasin. Loe inget nggak, waktu itu kita berdua naik subway di stasiun ini? Kita mau datang ke acara international day. Tapi tiba-tiba saat kita nunggu subway, ada korslet dan terjadi kebakaran disini. Kita sibuk nyari jalan keluar, karna tiba-tiba suasana jadi gaduh, orang-orang berlari sibuk mencari jalan keluar, dan akhirnya kita terpisah. Loe juga terus berlari karna nggak berhasil nemuin gue. Sementara gue, gue terhimpit orang-orang yang berlalu lalang dan gue nggak tertolong”. Papar Didan yang membuatku semakin bingung.
“Apaaaaaaaaa? Iya gue inget, tapi?lantas siapa Indie?” Sambungku.
“Indie juga ada saat kejadian itu terjadi, ia juga sama, saat itu ia mau kursus musik. Loe sempat menolong Indie saat itu dan berhasil membawa Indie ke rumah sakit. Tapi paru-paru Indie sudah penuh oleh asap dan Indie juga meninggal beberapa saat setelah sampai di rumah sakit” sambung Didan. Kali ini Indie hanya tertunduk dan menangis.
“Jadi, kalian? Dan gue? Kok gue, loe, kita sama? Gue juga meninggal?” tanyaku dengan penuh kebingungan.
“Loe selamat Rhafa, Kita bisa bareng, karna loe belum bisa ikhlasin gue, kedekatan kita selama ini betul-betul buat loe nggak mau balik ke diri loe sendiri. Sementara Indie, Indie datang untuk berterimakasih sama loe yang udah nolongin dia. Ikhlasin gue please sobat, dan loe, kembali lah, bangun, kasian keluarga loe nunguin loe”

Tak lama, tanpa terasa pegangan tangan kami terlepas, Indie dan Didan lama kelamaan tampak menjauh. Didan tersenyum, begitu pula dengan Indie mereka hilang dalam gelapnya gangnam stasiun.

***

“Alhamdulillah … Rhafa, akhirnya kamu sadar juga naaaak” wajah mama pertama kali kudapati saat mataku terbuka. Senyum dan air mata nya tampak menghiasi wajah nya.
“Rhafa kenapa ma?Rhafa dimana?”
“Kamu koma nak, dokter bilang ada beberapa syaraf mu yang terganggu akibat kebakaran waktu itu. Alhamdulillah akhirnya kamu bisa kembali nak, kamu koma selama hampir 5 bulan. Kamu ada di rumah sakit. Mama ke sini ke esokan setelah mama dapat kabar dari kampus dan KBRI kalau kamu masuk rumah sakit”
“tiga bulan ma? Didan gimana?”
“Didan meninggal dalam kecelakaan itu nak, Didan nggak selamat. Jenazahnya juga sudah di kirimkan ke Indoensia”.
“Didan me..meninggal Maaa” Hanya air mata anas yang terasa olehku saat itu. Aku kehilangan Didan, sahabat ku sejak SMA. Pertemanan ini sudah lebih dari 10 tahun. Didan sudah seperti saudaraku sendiri.

Cukup lama aku terbaring di rumah sakit. Entah berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk membuatku bertahan di ruang ICU. Untungnya professor sudah membuatkanku asuransi, hingga biaya rumah sakit tidak terlalu mahal.

Dokter bilang kalau aku masih harus banyak istirahat. HIngga akhirnya aku harus memperpanjang masa cuti dari kampus dan kembali ke Indonesia bersama mama. Mama meminta ku untuk di rawat di rumah di Indonesia sembari mengembalikan semua trauma dan memulihkan aku setelah terbaring tak berdaya selama hampir 5 bulan.

***
Pagi ini Jakarta masih sama seperti 3 tahun lalu sejak ku tundukan kepalaku saat terakhir ku cium tangan mama sesaat sebelum keberangkatan ku ke Korea untuk melanjutkan study ku. Jakarta, hangar-bingar pun tak mempan mengubahnya. Jakarta tetap benderang, angina panas menyambar, kepulan asap dari kendaraan yang melaju, lalu lintas yang selalu padat, dan jajaran para pedagang asongan.

Mobil katana kesayanganku berhenti persis di depan sebuah rummah ber cat putih dengan ayunan kecil teronggok di halamanya. Langkahku pasti melangkah memasuki pagar hitam yang tak terlalu tinggi, hingga aku berada tepat di depan pintu.

“Assalamu’alaikum” ucapku sembari mengetuk pintu rumah tersebut yang terletak di daerah Pondok Indah.
“Wa’alaikumsalam, siapa ya?” sapa seorang ibu yang membukakan pintu.
“Apa betul ini rumah nya Anindita? Mahasiswi yang pernah kuliah di Gwangju Korea?”
“Iya betul, anda siapa?”
“Saya Rhafa Bu, teman Anindita waktu di Korea”
“Masuk nak Rhafa” lanjut sang Ibu mempersilahkan ku masuk
“Tidak usah Bu, saya hanya sebentar, saya hanya ingin mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya Indie. Saya juga mau mengucapkan terimakasih, karma Indie telah menolong saya” saya pun segera berpamitan setelah bersalaman dengan Ibu Anindita, gadis yang aku cintai.

Dari dalam mobil, aku bisa melihat kesedihan Ibu Indie, yang jadi kembali teringat akan anaknya karena kedatanganku. Sebelum aku pulang tadi Ibunya sempat bilang kalau “seringlah main kesini nak, Ibu kepingin mendengar cerita tentang Korea, tempat anak Ibu belajar. Sering-sering datang kesini, anggap saja ini rumah kamu, karena Ibu hanya berdua dengan Bapak, Anin anak Ibu satu-satunya” Ternyata Anindita anak semata wayang, pasti keluarganya sangat terpukul saat mendapat kabar putrid semata wayangnya meninggal dalam kecelakaan kebakaran yang terjadi di subway.

***

“Selamat jalan kawan, terimakasih kalian membantuku, aku akan melanjutkan perjuangan dan cita-cita kita. Semoga Tuhan menempatkan kalian pada tempat yang sebaik-baiknya di sisiNya” tutupku dalam bait doaku teruntuk Didan dan Anindita.

Advertisements