Gemericik hujan masih mengisi keheningan sore ini. Alunan sayup irama jazz pun memecahkan keheningan suasana café di jantung kota Seoul. Dentingan sendok yang menyenggol halus bibir cangkir, bulir-bulir halus gula yang bersentuhan dengan botol penampungnya juga tak mau kalah hadirkan irama khas tersendiri. Berpasang-pasang mata sibuk menerawang hujan. Seorang wanita dengan stelan kemeja biru dongker dengan syal membalut lehernya tampak sangat menikmati krim yang menghias tinggi gelas nya.

“I Love You” sapa gadis yang duduk di sisi kiri jendela café kepada seorang pria yang duduk di hadapannya. Tangan halusnya tampak masih sibuk mengaduk secangkir coffee latte di hadapannya, mata nya tetap mengawasi setiap perpindahan gerak tubuh pria di depannya. Tak banyak yang dilakukan pria itu, ia hanya tersenyum dan menggenggam jemari wanita itu.

“I Love You, dulu, hari ini besok dan slamanya” ulang nya. Kedua matanya kali ini semakin dalam menerobos jarak pandang nya. Di tatapnya lekat-lekat lelaki itu. Lagi, pria itu hanya menunduk seolah tak mampu memandang sepasang mata indah penuh harap di hadapannya.

“Aku juga sayang kamu Belva, aku ingin selalu bersama kamu, aku tidak ingin kehilangan tatapan dan binar mu” kali ini lelaki itu tampak mengangkat wajahnya dan menyambut tatap haru sang wanita, sembari membenarkan duduk nya, lelaki itu kini menggenggam kedua tangan wanita yang sedari tadi menatap dalam kebisuan.

Gemericik air hujan di luar sana pun seolah tak mampu surutkan berjuta tanya dan ketakutan dalam hati mereka. Ketakutan akan perpisahan, ketakutan akan dosa, dan berjuta ketakutan lainnya.

Suasana kembali senyap. Kali ini hanya terdengar tetesan sisa hujan yang menubruk sehelai pelastik hitam yang tercecer di bawahnya. Coffee Latte ini sudah yang ke-3 kalinya di pesan. Sudah lebih dari 4 jam mereka terduduk dalam kebisuan dalam Café ini.

“Apa sih yang sebenarnya kamu tunggu dan apa yang buat kamu tidak berani melamar dan menikahiku tahun ini Yo?” ucap Belva memecah hening
“Aku belum siap Belva”
“lantas kapan kamu siap?”
“Aku nggak tau, kapan aku siap. Yang jelas, saat ini aku tidak siap menikah, dengan kamu atau siapa pun”
“Meski akhirnya kamu harus kehilangan aku?”
“Itu resiko yang aku terima karena ketidaksiapan ku”

Kali ini Belva tampak menatap kosong menerawang dalam cangkir dihadapannya. Lama kelamaan kelopak matanya tampak penuh dengan lelehan panas air mata nya.

“Aku cinta kamu Dyo, aku nggak mau kehilangan kamu. Aku tau ini semua mendadak, tapi apakah kondisi ini tidak dapat kamu maklumi?” Setetes demi setetes air matanya mulai basahi permukaan meja.

“Aku juga cinta kamu Belva, lebih dari yang kamu bayangkan. Tapi aku nggak punya apapun untuk menikahimu dalam waktu dekat. Beasiswaku bahkan tak cukup untuk biaya sekolah adik ku di Indonesia, belum lagi sejak ayah ku meninggal, aku harus membagi beasiswa ini juga untu menghidupi Ibu dan 2 adik ku. Lantas bagaimana aku harus menghidupi mu dan menyeretmu dalam lingkaran kesengsaraan ini?”

“Meski aku akan menikah dengan orang lain jika kau tidak menikahiku? Artinya kau tidak mencintaiku?”
“Justru karena aku sangat mencintaimu. Aku akan merasa sangat berdos dan terkikis hati ku jika melihat orang yang aku sayangi menderit dan tak tercukupi hidupnya.”
“Tapi aku nggak butuh itu semua Dyo, bersama mu pun sudah membuatku merasa bahagia, lebih dari cukup.”
“lantas selama itu pula, aku merasa tersiksa dengan kemiskinan dan ketidak mampuanku untuk menafkahimu.” Sambung Dyo, kali ini sembari mengusap dahi nya. Tangan kanan nya tampak menyodorkan tissue pada wanita yang sedari tadi sibuk menyapu pipi nya yang tertutupi air mata.

Belva tampak masih hanyut dalam isak tangis nya, sesekali ia coba mengatur nafas nya. Pilihan ini memang sulit buat mereka 5 tahun pacaran, meski kini mereka sama-sama tengah melanjutkan kuliah di Seoul, tetap kemiskinan dan ketidak mampuan finansial masih terus membututi Dyo, putra sulung dari sebuah keluarga kurang mampu di desa nya. Sementara Belva, meski ia bukan anak dari seorang milioner, tapi selelau hidup dalam kecukupan.

“Apa kata orang tua Belva nanti, kalau aku menikahi anak mereka tanpa modal apa-apa, bahkan untuk membeli sebentuk cincin pun aku tak sanggup, karena beasiswa yang kuterima tak begitu besar” pikir Dyo dalam hati. Darahnya seolah mendidih, jika ia harus menerima kenyataan orang yang ia cintai akan menikah dengan orang lain. Bahkan saat ini pun Belva berstatus tunangan orang.

Sejak Ibu belva sakit-sakitan, Belva memang menjadi anak yang lebi penurut. Menikahi Ryan pun hanya untuk menyenangkan hati ibu nya yang tengah terbaring di rumah sakit. Sementara Dyo yang ia harapkan dapat menikahinya hanya terdiam pasrah melepas Belva.

“Lusa aku balik ke Indonesia, dan sabtu aku menikah. Tak ada kah yang dapat kau lakukan untuk mencgah pernikahan ini Dyo? Aku nggak mau menikah dengan Ryan” sambung Belva dengan tatapan kosong pada cangkir dihadapannya.

“Aku tau, tapi aku tak punya pilihan selain mengikhlaskan mu. Aku bahkan tak dapat menghadiri pernikahan mu karena aku tak mampu membeli tiket untuk ke Indonesia. Maafkan aku Belva, ikhlas kan lah semua ini, dan segala nya akan berlangsung aman dan tenang”.

“Aku nggak cinta Ryan, apapun itu, aku masih menunggumu hingga 30 menit sebelum akad nikah ku Dyo. Kamu masih punya waktu, dan aku harap kamu bisa melakukan sesuatu. Semuanya akan menguap begitu saj jika kita tidak bersatu, jika hanya aku yang berusaha semuanya akan hancur karma tidak memiliki kekuatan.”

“Belva,….”
“Sssst…” sambung belva sembari merkatkan telunjuknya pada bibir Dyo.
“Kmu tidak usah jawab apa-apa sekarang, aku tidak butuh kata-kata, yang aku butuh hanya fakta dan tindakan. Aku sayang kamu Dyo” tutup nya sembari mengecup pipi Dyo dan meninggalkan Dyo di Café sendirian berteman kegalauan dalam hatinya.

Dari dalam café, Dyo masih mengawasi gerak-gerik langkah Belva yang berlalu dan menghilang di sudut jalan.

***

“Apa yang harus aku lakukan Yaa Allah? Engkau mengetahui apa yang aku rasakan. Engkau mengatur semua ini. Engkau juga yang terus menambah dan menambah rasa di hatiku hingga besaaaaaar seperti sekarang ini. Tapia pa? Kau juga yang mengambil nya dari ku Yaa Allah. Apa rencana-Mu? Apa salah ku hingga Kau hukum aku seperti ini? Aku selalu berdoa pada-Mu, aku menjalankan perintah-Mu, aku tak pernah meninggalkan dhuha ku sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di Korea ini. Tapi apa? Kemiskinan ini masih terus mengikuti langkah ku, aku kehilangan Ayah ku pun karena rumah sakit tidak mau memberikan pertolongan sebelum kami melunasi biaya rumah sakit. Mereka membiarkan Ayahku digerogoti oleh rasa sakitnya hingga ia terbujur kaku di rumah sakit. Sekarang harus kah aku kehilangan Belva, masih dengan cerita yang sama Yaa Allah? Cerita yang sama, karena kemiskinan ku???”

Tangis Dyo mulai meledak dalam sujud terakhirnya di shalat malam nya. Lagi, ia kembali mengutuki hidup nya. Ia mengutuki kemiskinan yang seolah menjadi bayangan nya. Dyo memang anak yang pintar, kesempatan melanjutkan kuliah hingga ke Korea pun diperolehnya karma ia adalah mahasiswa terbaik di kampusnya. Cukup beragama dan tak pernah meninggalkan shalat malam dan dhuha di pagi hari.

“Yaa Allah, jika memang Belva bukan calon istri yang terbaik untuk ku, maka cabut lah semua rasaku untuk nya, dan cabutlah rasanya untuk ku. Jangan Kau permainkan hati kami yang tak berdaya ini Yaa Allah. Jika aku harus kehilangan orang-orang yang aku sayangi karena kemiskinanku, aku mohon cabutlah kemiskinan ini Yaa Allah”

Dyo masih tampak terisak dengan posisi yang sama, bersujud di atas sajadah lusuh pemberian nenek nya sepulah haji 12 tahun yang lalu.

Sementara di sisi lain kota Seoul. Belva sibuk mengemasi barang dan mengecek semua perlengkapan dokumen untuk keberangkatannya esok pagi. Sesekali tampak ia juga sibuk mengusap air mata yang tak sengaja tertumpah di antara tumpukan baju nya.

***

“Aku pergi Dyo, aku masih akan menunggumu hingga 30 menit sebelum ijab qabul pernikahanku nanti. Jangan tutup telepon nya, nanti aku akan telepon kamu. Aku sayang kamu Dyo” ucap Belva menunduk dengan air mata yang tak henti-henti nya banjiri kelopak mata nya.
“Aku juga sayang kamu Belva, ini semua seperti lelucon. Aku mengantarkan orang yang paling aku sayang untuk di nikahi oleh orang lain. Jaga diri kamu, salam dan maaf ku untuk kedua orang tua kamu” sambung Dyo yang kali ini juga sudah tampak berkaca-kaca.

Tampak kekecewaan menggelayuti wajah Belva, sementara Dyo, berusaha membuang kesedihannya dengan terus tersenyum hingga Belva menghilang dalam antrian penumpang lain nya di Incheon.

Dyo menyusuri bandara dan mendapati bis yang mengarah ke kampus no satu di Korea. Kali ini ia benar-benar tak dapat menyembunyikan kesedihan yang sedari tadi menggerogoti hati, air mata nya masih menetes panas. Hingga pada suatu malam, 3 hari menjelang pernikahan Belva, Dyo mendapat telepon dari professor tempat ia kuliah.

“Hello Prof”
“Dyo, I’ve got good news for you, I’ve got my project, and the government will support us. So I will give you extra salary exclude your scholarship. You received 500.000 won from your scholarship now right”
“yes professor”
“And from tomorrow, tomorrow is 1st of August I will give you 1 million won from our project and also I want to ask you about Prof. Kim Sang Kuk, he want you to help him to make some analysis of his research, this is contract for 6 months, and he will give you 500.000 won. So what do you think?”
“It’s my pleasure to help Prof. Kim. Do you think I can do it professor? Because I have to finish my paper, and also start our project and also help Prof. Kim for his research?”
“Hei, Dyo, you are my best student, sure I believe you can do that. Ok deal, so please prepare your passport, alien card and sign the contract tomorrow. Tomorrow, I will give you cash for the 1 million and Prof Kim also give you 500.000 won. And your scholarship, they will send it through your account as usual at 3rd of August. Good night”
“Good night, thank you Professor” sembari meletakan Hp nya, tampak Dyo langsung sujud syukur di lantai lab tempat ia kuliah. Ia tak peduli jika ada teman lab nya yang melihat atraksi Dyo malam ini.

Sesampainya Dyo di asrama, ia segera mengambil wudhu dan hanyut dalam setiap sujud shalat nya. Dalam doa nya ia bersyukur “Terimakasih Allah, kau telah merubah segala nya hanya dalam hitungan hari, Kau masih memberiku kesempatan, Kau masih memberiku dan mengabulkan doa ku meski aku selalu menghujat-Mu, meski aku selalu tak bersyukur akan rizki yang kuterima. Terimakasih Allah, Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah” kali ini Dyo menutup doa nya dengan tasbih panjang nya.

“Thank you for helping me Dyo”
“My pleasure Profesor”

Usai menandatangani kontrak dan menerima 1,5 juta won, Dyo bergegas ke bank, untuk memasukan uangnya, mencari Fahdi, anak Indonesia yang juga kuliah di kampus yang sama, untuk memesan International Calling Card untuk menelepon Belva di Indonesia usai makan siang.

“Halo” sapa seorang gadis di ujung sana
“Belva, ini aku Dyo”
“Dyooooo, kamu apa kabar? Aku kangen kamu” antusias suara Belva terdengar menyejukan terik kota Seoul hari itu.
“Kamu lagi ngapain?”
“Aku lagi di tukang jait sama tante ku, untuk nge-pas kebaya buat lusa”
“Sayang, aku mau cerita sesuatu sama kamu, ini serius. Kamu bisa terima telepon aku dengan nyaman nggak? maksudnya kamu nya ga sibuk dang a ngerjain apapun?”
“Bisa-bisa, bentar yaaaa” terdengar suara pintu terkunci “oke aku siap, ada apa?”
“belva, aku dapat projek dari Prof. ku, aku punya uang sekarang, aku akan menikahimu segera, aku akan ke Indonesia besok dan menjemput Ibu dan adik ku untuk menikahimu”
“Dyo, kamu ga lagi bcanda kan?”
“Aku serius, Allah menengar doa kita. Aku akan telepon orang tua kamu, ibuku dan juga Ryan, tolong kamu sms no ryan ke aku, aku akan telepon ryan dan menyelesaikan semuanya.”
“Dyooo…alhamdulillah” terdengar suara Belva menahan tangis bahagianya
“Kamu tunggu aku ya, aku akan datang. Nanti malam aku telepon kamu lagi. I Love you”
“I love You Too Dyo” dan telepon pun terputus.

Tengah sibuk menelepon orang tua Belva, Ibu di desa dan mencari tiket untuk keberangkatan besok, Dyo coba menemui professor nya untuk meminta izin kembali ke Indonesia untuk menikah.

“Dyo, surprise, congratulation. I’m so sorry I couldn’t come to your wedding. But I’ll give you special gift when you back to Korea”
“thank you very much Profesor, I should go now. Have a nice day”
“yeah, you too, see you soon”

Dalam perjalanan kembali ke asrama untuk segera mengemas pakaian, Dyo menerima telepon dari nomor tak di kenal.

“Hello, mmm Yeoboseyo…”
“Kak Dyo?”
“Iya, ini siapa?”
“Ini rey kak, Reyfantika”
“Oh, Rey, ada apa? Matikan teleponnya, biar Kak Dyo aja yang telepon kamu”

Reyfantika, adik bugsu dari Belva yang masih duduk di bangku sekolah kelas 1 SMA.

“Ya Rey, ada apa?”
“Mbak Belva kak, Mbak Belva …” tak terdengar lagi suara selain isak tangis Rey sore itu.
“Iya, belva kenpa rey, kenapa? Coba kamu tenang dulu, kasi tau Kak Dyo, Belva kenapa?”
“Kak Belva meninggaaaaal….” Smakin meledak tangis Rey sore itu
“Innalillahi wa Inna Ilaihi raaji’un…nggak mungkin Rey, tadi siang kak Dyo masih telepon Belva. Belva kenapa Rey?” Dyo terduduk di kursi taman depan asramanya. Lemas, berkeringat, dan tak karuan kuasai hatinya saat itu.
“Mbak Belva barusn kecelakaan, pas dia balik dari tukang jait sama tante, taksi yang mereka tumpangi di tabrak mobil ambulance yang sedang ngebut karena akan menjemput pasien. Ambulance menabrak sisi kanan taksi, persis di pintu tempat Mbak Belva duduk kak…” penjelsan tak beraturan ini mengalir di iringi isak tangis Reyfantika.

Dyo hanya terdiam, ia masih tak percaya akan apa yang ia dengar. Ia mematikan telepon nya lantas kembali ke kamar asramanya. Masih terdiam dengan tatapan kosong, ia memasukan helai demi helai pakaian nya ke dalam tas ransel yang akan di bawanya esok hari.

“Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un, allahummagh firlaaha warhamha wa’afihi wa’fuanha. Selamat jalan Belva, ternyata Allah berencana lain untuk kita. Saat aku telah mendapatkan kesempatan untuk menikahi mu pun, ALLAH masih memiliki rencana lain untuk kita. Allah terlalu menyayangi mu, hingga ALLAH pun tak memberikan kesempatan padaku untuk memiliki Mu. Allah begitu menyayangi mu hingga ALLAH mengambilmu kembali untuk berda di sisi-Nya. Terimakasih Yaa Allah, dalam detik-detik terakhir nya Kau masih beri aku kesempatan untuk mengutarakan niat ku untuk menikahinya, Kau masih izinkan aku untuk mengatakan betapa aku mencintai nya. Selamat jalan Belva, I love You” Dyo menutupkan kembali selendang putih yang menutupi wajah Belva yang terbujur kaku di hadapannya. Ia tak beranjak kemanapun, tetap di sisi Belva sembari melantunkan doa-doa nya mengantar kepergian Belva.

Advertisements