sssssst…terdengar pasti melalui kabel earphone yang menyangkut di telinga. Muncul satu id di sudut kanan layar monitorku, “online”.

“I love you” mengalir selalu tulus menyelingi perbincangan kami melalui messenger yang menyatukan dua benua sejak 2 tahun lalu.
“I don’t love you, never!” juga kata yang selalu muncul setiap kali aku mengetikkan kata sebelumnya “I love you”

kata yang selalu membakar, menjatuhkan hati dari ketinggian tak berujung, lantas pecah berhamburan ketika bertumbukkan dengan aspal panas yang terbakar mentari. “Reno” lelaki keras kepala, egois, kasar dan ga bisa menghormati hati wanita. Dua tahun lebih kedekatan ini tak berarti, hanya kata-kata kasar keluar seolah mengalir tanpa melewati otak.

“is there any special reason to loving you? I don’t love you, I don’t need you, so’ should I love you? Why”
kata keluar dari bibir seorang pria tak berhati, kejam, tajam dan selalu mengoyak lapisan demi lapisan hati hingga terbuncah dan tak lagi berbentuk sempurna.

Aku kebal, Tuhan menempaku seperti ini, hati ini memang masih teronggok mengisi tubuh, meski sepeti hiasan usang tak berarti, tak berfungsi, beku, mati rasa.

If you’re not the one than why does my soul feel glad today
If you’re not the one than why does my hand fit yours this way

lagu daniel badingfield ini pun selalu mampu menggambarkan suasana hatiku, meski dengan kuas yang masih bersih dan kanvas tak bergambar, bersih. Cinta memang gila, cinta membuat dunia sinting, cinta membuat senyuman dan cinta juga yang membuat luka.

Dua tahun aku menjalani cinta tanpa arti, cinta tanpa alur, cinta tanpa warna, cinta yang selalu menempaku dengan cara yang sangat keras sampai aku tak lagi merasa cinta pernah diciptakan. Reno, seperti penjajah kejam, tanpa ampun terus menggoreskan kata-kata tajamnya tak peduli apapun. Seolah belum puas, kali ini ia datang membawa sebilah pedang dan berpuluh-puluh botol cuka lalu mengguyur lukaku.

Kali ini, Reno kembali menyapa, setelah sekian lama aku lari dan mengasingkan diri meski hati selalu merindu.

“rose” ketiknya sambil memunculkan emoticon bergambar rose
“for me? or you want me to know that you have a rose?”

“It’s for you, special for you and i wish i can give it more to you”,
“But this time i only have the soft one, I’m so sorry, hope you can understand this situation”

[senyap] … [kosong] tanpa kata tertulis

“thanks a lot Reno, wish i could get it more someday” dengan sedikit ragu, ku enter tulisan ini.

Reno tau kalau ia selalu mampu membuat ku menangis dan sedikit tersenyum dengan kata manis yang coba ia sampaikan meski dengn cara yang sedikit aneh, kasar dan tak manusiawi. Ku biarkan diriku terbang sejenak, menari di atas awan dan menikmati indahnya cherry blossom. Saatnya kembali dan bersiap mendapati kata-kata tajamnya pikirku sambil kembali membuka mata dan menatap monitorku dengan nafas sedikit tersengal.

“Kamu nangis lagi ya?” sambung Reno
“Thank’s Reno, lagi setelah sekian lama kau mengingatkan aku dengan cairan ini, cairan air mata yang menggenangi kelopak mataku, panas lantas membuncah dan mengalir panas”

“Aku janji aku bakal buat kamu bahagia suatu hari nanti”, “Aku juga benci diriku, yang hanya bisa menyakiti orang lain”
“Kamu ga perlu berjanji apapun Reno”, “U’ve told me that HE will give the best one for us”

[lagi-lagi air mata mengisi kekosongan]
meski aku ga pernah tau apa yang terjadi pada Reno di sebrang sana. Meski seharusnya dia juga menyadari hubungan terkejam ini sudah berlangsung selama dua tahun. Tanpa kejelasan, tanpa ikatan, tanpa kata-kata kecuali luka.

“Aku akan berhenti kuliah Reno”
“Kenapa? ada alasan khusus?”

“Nope, aku cuma ngerasa bodoh dengan menjalani semuanya tanpa aku tau apa yang sedang aku cari, untuk apa aku melakukan ini semua, apa aku hanya memburu dua huruf yang menghias awal namaku setelah kelulusan nanti? Nggak!!!”
“Hei..what happend with u? what are u talking about?”

“Aku hanya ga tau apa yang sedang aku cari? semua ini malah hanya memaksaku untuk membagi rata pikiranku”
“Apa yang harus dipikirin?”

“Aku harus belajar, memikirkan risetku, adik-adikku, keluargaku dan semuanya”
“Then kamu mau ngapain setelah keluar dan berenti kuliah?”

“Membuat orang disekitarku bahagia, menikah, kerja, atau hanya terdiam mengurung diri dalam kamar kosong”
“Then get married if u think it will be a good solution”

“should i marry without love?”
“I cant answer this question”–“takdirmu ada di tanganmu, Tuhan hanya bertindak menjadikannya nyata”

Pernikahan memang sudah seperti virus yang terus menggerogoti pikiranku. Sebagai anak sulung di keluargaku, pernikahan seolah terus menyambangiku, bertanya, dan terus bertanya meski aku selalu tertunduk tanpa jawaban yang kupunya. Aku selalu tak punya keberanian yang cukup untuk melawan dan menatap semuanya, lantas hanya berlari, berlari sejauh yang ku mampu dari kejaran pertanyaan dan dari orang-orang yang bertanya. Berlari hingga kuputuskan melanjutkan studiku dan berharap tak satupun menemukanku di dunia ini.

“kamu sudah memilih jalan ini, jalan dengan track dimana kamu harus terus berlari sampai garis finish” kata-kata Reno yang aku tau masih ada sedikit peduli untukku.
“Jangan jadi anak kecil, menghindar ketika semua seolah memaksamu berhenti. jangan terdiam dan terus menikmati keterbaringanmu. Kamu harus berdiri, berjalan dan berlari lagi sampai finish” ketik Reno sampai memenuhi layar messengerku.

“aku hanya takut Reno, aku takut sendiri, sepi, dengan tubuh menggigil melewati rimbunan hutan dingin”, “teman-temanku pun meninggalkanku satu demi satu dalam pernikahan mereka. Lantas aku? sibuk mengisi otak-ku yang sudah penuh sesak, entah apa yang kucari…”
“don’t worry, i’ll be there”

“be there?”
“sorry, aku salah ketik”

“oooh, aku kira itu untuk aku”

Reno hanya terdiam beberapa saat, tampak kalau ia sedang menulis, meski lama, tak ada kata yang masuk.

U’ve got me
Don’t worry, I’ll be there in your graduation
And i’ll not invite all of them that always ask you “that question” on our wedding day

“our wedding day”
kali ini Reno kembali terdiam, sementara aku, terdiam dengan air mata yang kian penuhi kelopak mataku yang tak begitu besar. “Tidak” pikirku, aku ga akan membiarkan diriku terbang menembus awan kali ini, masih terekam jelas setiap kali aku mengawang dengan kesemuan itu lantas terjatuh dengan dada membentur aspal, memar, biru, hancur berantakan.

Terlalu lama kau latih aku dengan kata-kata tajam mu yang selalu menggores hati Reno. terlalu lama kau selalu membanjur hatiku dengan cuka meski lukaku masih menganga. Kali ini, aku bahkan tak lagi merasakan debaran dan manisnya katamu. Hati ini benar-benar mati rasa, tak lagi bernafas, tak lagi ada kehidupan.

[kami hanya terdiam, hingga Reno menutup semuanya]

“I have to go now, tetaplah berlari hingga garis finish, I’ll always be by ur side”
“I love you”
pssssst, —–> was signout

Tuhan, mengapa semuanya tanpa rasa? haruskah ku percaya? atau haruskah lagi ku terhempas dan terima semua luka ini?

“I love you” —> for the first time

haruskah ku tunggu kata yang sama setiap hari
atau berlalu tanpa hiraukan kata itu

hanyut dalam isak tangis sujud panjangku

Advertisements