Mentari pagi mulai menjelajah langit biru nan cerah, belum lagi ia sampai tepat di ubun-ubun, sinarnya coba menyelinap dari balik korden lantai 3 apartemen. Tak banyak, namun cukup menyilaukan mata yang masih tertutup rapat. Aliran udara sejuk yang keluar dari pendingin ruangan masih manari-nari dan berputar. Dengan sedikit malas kembali kutarik selimut yang sedari tadi menggulung tubuhku.

Terus tersenyum dan berlari dalam kejaran mimpi. Bermain bersama alam di sebuah taman yang sangat indah. Bunga-bunga bermekaran dengan sesekali dijumpai beberapa kumbang yang menempel manja menghisap setiap sari yang mereka punya. Kupu-kupu indah menghiasi beberapa kuntum bunga.

Tiba-tiba ada sosok anak kecil yang menghampirinya, masih di taman yang sama, mungil, cantik, dengan pita merah muda terselip di jalinan rambutnya yang berwarna kecoklatan.

“Tante, temenin aku pipis dong” sapanya seraya menarik telunjuk kananku
“Mama kamu mana anak cantik?” sambungku sembari mengikuti langkah mungilnya menuju toilet di sudut taman
“Mama lagi lari keliling taman, tadi aku main perosotan, teruspengen pipis” sambungnya dengan nada yang tersengal
“Sini tante bukain celananya” lanjutku setelah sampai di dalam toilet
“Ga usah tante, aku bisa kok, tolong gendong aku ke atas kloset aja” sambung nya sembari membuka beberapa kancing celananya.
“Okay”
“Tante, pintunya ditutup ya, aku malu. Kata mama kalau pipis nggak boleh diliat orang” pintanya dengan sebelah tangannya digerakkan seolah menyuruhku keluar.
“Oh baiklah” sambungku sembari meninggalkannya dan menutup pintu toilet dari luar. Hmmmm malu? boleh juga, meski dari tadi sebelum dia kunaikkan di atas klosetpun ia sudah membuka celananya. Oke..aku hargai malu-mu diiiik..
“Kalau cari tante, tante ada di kamar mandi sebelah ya” jeritku seraya memasuki salah satu ruang toilet di sebelahnya.

Ceeeeeerrrrrrrr…..aaaaaah legaaaaaaa
Dan ……

Oh Gosh…
Segera ku bebaskan tubuhku dari lilitan kain ditubuhku dan bergegas ke kamar mandi.
Aaaaaah…mimpi ini menyiksaku, hampir saja aku ngompol. Gilaaaaa udah segede ini masih ngompol..hahahaha ternyata taman-taman tadi hanya akan mengantarku pada setumpuk sprei dan selimut bau pesing. Untungnya belum sempat keluar..

Well, sinar mentari yang coba menyelinap dan mengganggu tidurku kini benar-benar memenuhi kamarku. Ceraaaaaah suara kicau burung juga terdengar merdu seolah saling bersahutan atau sekedar mengobrol di pagi hari. Segera ku seduh secangkir teh SariWangi kiriman mama.

Ssssssst…
Satu nama muncul di sudut layar monitorku. Tak lama kemudian satu id menyapa ku lewat sebuah messenger.

“Hi, How are you manis?”
“Hiii, Im good, thanks, what about u babe?” ketiku dengan senyum yang tak mampu ku tahan [sanking] girangnya..
“Me too, I always good when I’m chatting with you, But honey i have a bad news”
“Bad News? May i know?”
“I can’t get my passport, so I can’t go there”
“Whaaaat??? Is there any problem with your passport?”
“I should stay here at least for one and half year to get military. There is no choice for me, military or i have to pay about more than $10.000”
“……” tanpa kata-kata hanya lemas tiada tara
“honey, but I will try to get close with you and then we will be together forever”

Aaaaaah, kata-kata “together forever” ini terasa tak memiliki makna apapun. Wamil? masih musim? Lantas kenapa wamil ini harus menggagalkan semuanya? satu setengah tahun aku harus menunggu? aaaaaaaah Tuhan, apa arti semua ini? Ku coba menepuk jidatku dan mencubiti tubuhku.

Ini bukan mimpi..mimpiku sudah benar-benar terhenti saat pipis di taman tadi. Dan ini? wamil? 1,5 taun? NYATA? aaaaah semakin lemas meski tubuh ini telah diberi aliran teh sari wangi.

Kembali ku berdiri di depan jendela dan meninggalkan laptop ku yang masih menyala di kamar. Ku tatap [lagi] mentari yang kian meninggi dan semakin memendarkan cahaya terangnya. Semilir angin yang sesekali melintas turut menggoyangkan rerumputan. Beberapa burung ber-species Rioardi bertengger berjajar di sebuh ranting pohon. Ntah apa yang mereka bicarakan, tapi tampak serius, terbukti dari kicauannya yang terkadang mengeluarkan nada cukup tinggi. Satu diantaranya tampak terdiam karena dua lainnya seolah menceramahinya.

Kasihan nasibmu whai burung…
apakah mereka berdua itu orang tua mu?
kau dimarahi?
karna kekasihmu tak dapat terbang bebas karna harus ikut wajib militer di ranting lainnya?

Aaaaaah…
Wajib Militer…
Wamil [mu]
menggagalkan Hamil [ku]

Advertisements