“Indah ya? kamu suka hujan?” suara halus membuyarkan lamunanku yang terpaku menatap hujan.

“oh, hai, iyaa, hujan memang indah. Suka hujan juga?” sambungku menatap sosok yang tiba-tiba hadir disebelahku.

“yaaa, aku suka hujan. O’iya aku Nayla, desain grafis semester satu” sambungnya tanpa mengulurkan tangan perkenalan dan terus menatap hujan.

“Oh, aku Rey, Reifan, Arsitektur semester akhir yang sedang dikejar-kejar thesis” balasku.

Rintik hujan masih terdengar jelas menyapa telinga, gemericiknya tercipta sesaat setelah ia membentur permukaan bumi dan genangan lainnya. Hujan, kembali menghapus debu kota, dedaunan dan tanah basah mengeluarkan aroma khasnya. Hujan, masih saja tenangkan hati dan menghapus setiap luka, meski hanya sesaat.

“Mau minum kopi nggak” kembali ku membuka pembicaraan.

“Mmmm boleh deh, tapi aku nggak punya receh” 

“Aku punya kok, aku traktir…”  tutupku sembari mengarah ke vending machine di sudut gedung kampus.

Kali ini kami memilih duduk di pingggir gedung, bercerita hujan, dan masih menatap hujan ditemani gemericiknya yang sesekali menitikkan noda-nya di ujung celana jeans ku.

Sejak pertemuan itu, kami suka menikmati hujan bersama, masih di gedung yang sama, bangku yang sama, meski hanya untuk beberapa saat karena aku harus kembali ke Indonesia setelah mendapatkan gelar masterku. Sementara Nayla masih menjadi penikmat hujan berteman coffee latte [pun] masih di bangku yang sama saat pertama kali kami bertemu.

“Kok papa nangis?” tanya Keysha sambil mengusap air mata yang mengalir panas di pipiku.

Keysha putri pertama ku, hasil buah cintaku dengan Nayla. Ya, aku dan Nyala menikah setelah ia mendapatkan gelar masternya dan kembali ke Indonesia. Meski berjauhan, kami selalu berkomunikasi lewat telpon, internet dan terkadang menikmati hujan bersama. Tuhan adil, pernah menyiram belahan bumi ini secara bersamaan. Yaaaa hujan yang sama, di Indonesia dan Korea.

Kali ini kembali aku duduk di bangku yang sama saat pertemuan pertama kami, di kampus kami tercinta, gedung kampus yang selalu mendengar perbincangan kami, suasana masih sama, hujan, dingin dan dengan caffee latte tergenggam ditanganku.

Kebetulan aku harus menandatangani beberapa proyek kerjasama di Korea, nggak ada salahnya aku sekalian ajak Keysha berlibur sekalian melihat tempat di mana mama dan papanya pertama kali bertemu.

“Paaa, kok papa masih nangis terus? Keysha jadi ikutan sedih nih” kembali tangan mungilnya menyeka air mataku.

“Nggak apa-apa sayang, papa cuma kangen mama”

“Keysha juga kangen mama, mama pasti kena ujan paaa, kedinginan, kasian mama paa”  lanjutnya sambil mengguncang lengan kananku.

“Nggak sayang, mama sama papa suka hujan. Hujan nggak akan bikin mama sedih”  lanjutku sambil memeluknya.

Aku dan Keysha memang hanya bisa mengenang Nayla. Istri sekaligus ibu dari putri kecil kami. Nayla meninggal 3 tahun lalu. Mobilnya terbalik masuk jurang saat menghindari sebuah motor yang menyalip di depannya. Hujan, yaaa hujan tidak hanya mengambil kesedihan, menghapuskan luka dan membasahi bumi, tapi juga mengambil Nayla dalam kecelakaan itu, dan memberikan luka bagiku.

“Aku masih disini sayang, menatap hujan, di bangku yang sama saat pertama kali kau menyapaku. Aku ajak Keysha, berdua kami menatap hujan, seperti yang sering kita lakukan dulu”  kataku dalam hati sembari mengeratkan pelukanku pada Keysha yang tampak mulai tertidur diiringi suara gemericik hujan.

“Hujan” …

dalam hujan kuterdiam

Advertisements