Suara sirine dari mobil polisi masih terdengar jelas…

wiuuuu…wiuuuu…wiuuuu..wiuuu kurang lebih begitulah bunyinya, meski tak begitu mirip.

Beberapa mobil petugas tampak berlalu lalang mengitari Ibu Kota negri ginseng ini. Ratusan pria berseragam pun tampak mengambil posisi berjaga2 dan sibuk mengoceh sendiri dengan HT yang selalu tergenggam ditangan mereka.

G-20, digelar di Seoul…itu sebabnya mereka tampak riweuh dengan ibu kota yang semakin membekukan dirinya belakangan ini. Orang-orang no.1 dar masing2 negara termasuk PAK SBY dan PAK OBAMA turut hadir di negri dengan kecepatan internet terbaik sedunia ini. Hmmmmm….hari ini aku ingin menghirup sebanyak2nya udara di Seoul…maaf Pak Presiden, bukan berarti aku ingin menghabiskan semua udara di Seoul ini agar kau tak kebagian. Aku hanya ingin merasakan kehadiranmu ditengah2 kami yang tengah berjuang mengadu nasib dengan lab, paper, dan tugas2 dari professor. “Kita menghirup udara yang sama Pak, meski di Jakarta pun kita menghirup udara yang sama, tapi disini beda, karna setiap tarikan nafas diserti rasa kebanggaan dan nasionalis terhadap tanah air nun jauh disana”.

Bendera dari sejumlah negara2 berkibar di birunya langit Ibu Kota negri kimchi ini. Begitu pula dengan MERAH PUTIH yang tetap gagah berkibar meski suhu hari ini cukup menusuk relung hati. Gagah sekali, benderaku berkibar di negri ini, negri dimana semua orang tak mengerti apa itu BHINEKA TUNGGAL IKA, “wong bukan di Indonesia, ya ndak ada yang ngerti” kata salah satu anak jiwaku. hehehe bener juga.

Seolah ada kerak menempel di pipiku, semacam kerak iler yang setiap pagi harus aku bersihkan disekitar dagu, tapi mana mungkin iler sampai ke pipi, aaaaaah sebegitu lasak nya kah aku tidur?hmmmmm ini bukan iler, tapi air mata yang mengering, mengeras, dan mengkristal karena dipengaruhi suhu yang begitu dingin. Air mata yang tanpa sengaja memberikan kehangatan sedetik di wajahku, air mata yang seolah juga ingin menunjukkan , bahwa ia bahagia melihat benderanya di negri lain, air mata yang juga mengantar ratusan saudara kita di tanah air, air mata yang merasakan kehadiran orang-orang No.1 itu hadir.

——————————————————————————————————————————

Jemari ini masih sibuk menjelajahi setiap huruf dalam kyboard sebuah laptop tua peninggalan sejarah. Mata ini pun mengikuti setiap jalannya huruf, ke kiri,kanan, atas, bawah, kadang bola matanya terputar sendiri tanpa tujuan (kalau menurut film kartun sih, itu tandanya pusing atau habis kepentok apaaaa gitu). Sibuk mencari file mp3 lagu ciptaan Eyang W.R. Supratman, INDONESIA RAYA. Sala satu website akhirnya memberi sinyal kalau “ditempatku ada file nya kok, nih tinggal di download aja” sapa sang website. Dengan cepat tangan dan konsentrasiku berpindah ke website itu dan yaaaah, aku dapatkan file yang aku cari.

Langsung, mencari headset, membuka winamp dan klik play di lagu INDONESIA RAYA, berdiri tegak dan langsung menarik tali korden di rumah bak seorang paskibraka di istana negara,perlahan, sambil menikmati suara yang mengalun ditelinga, lagupun habis, dan kordepun sudah terbuka dengan sinar mentari yang ikut masuk dan sinari sebagian ruang tamu. hehehe…

Semua orang heboh persiapkan datangnya orang No.1 Indonesia ini. Ya, Pak SBY. Mulai dari KBRI, teman2 pekerja, Masyarakat umum lainnya, sibuk menata diri untuk berjumpa dengan orang No.1 ini, ada lagi yang sibuk tak menentu kalau orang Medan bilang “STM” ga ada yang dikerjakan, tapi sibuk aja sendiri, gerogi Pak Presiden mau dateng. Ngedadak bersih2 rumah (padahal kan Pak SBY ga akan mampir ke rumah juga kaliiii), tiba2 beberapa orang Korea tampak sedang memanjat Seoul/Namsan Tower, lagi dibersihin biar keliatan lebih cling (ini mah lebay/boongan). Seolah semua saling berbisik “SBY di Seoul…SBY di Seoul…SBY di Seoul.” begitulah khabar yang terdengar dan smua saling berbisik di seantero Korea.

Salah satu orang kepercayaanku berhasil menyelinap dan menguping perbincangan antara Pak SBY, KBRI, dan beberapa pihak perwakilan lainnya lewat telepon, begini perbincangan itu :

SBY : KBRI, nanti kalo aye ke Seoul tolonglah bikin acara Presiden Temu Ramah dengan Masyarakat. Gausah banyak2 kalao emang KBRI ga punya duit, yaaaa ga usah banyak2 lah, tapi mewakili dari setiap kalangan.

KBRI : ooooh, pasti Pak…akan kami adakan, kalaupun ternyata duit kami ga cukup, nanti kami ngutang dulu ke warung sebelah. Kira2 ada sarat atau masuknnya ga Pak, siapa2 saja yang harus hadir?

SBY : Yaa masyarakat Indonesia yang di Korea lah. Pekerja, masyarakat biasa, expat, pelajar, kalau ada supir bis dari Indonesia juga boleh diajak, barangkali nanti bisa diskusi dan memberikan masukkan bagaimna menyetir bis di Korea dan di Tanah ABang.

KBRI : oooo benar juga Pak, kalau begitu, saya buatkan list peraturannya ya Pak, demi keamanan Bapak. Disini saya buatkan peraturannya bagi mereka yang mau berjumpa dengan Bapak harus : 1. Membawa Undangan dan tidak boleh di wakilkan, 2. Berpakaian resmi, bukan jeans, dan tidak memakai sepatu kets, 3. Membawa ID card 4. Tidak membawa camera,dll

SBY : ooooh, ok saya setuju, tapi saya minta mahasiswa di ajak yaaaaa….apalagi presiden mahasiswanya, yaaaa, sesama presiden saya juga pengen berbincang2 masalah negara laaaaah dengan beliau.

KBRI : ooooh pasti Pak, untuk rombongan mahasiswa mungkin akan diwakili oleh mahasiswa2 dari departemen, mereka juga kuliah disini pak…..mereka kan lebih mengerti tatacara bertemu orang besar seperti Bapak, dari pada mahasiswa biasa. Mahasiswa mah pada suka demo Pak…nanti bapak malah teu aman…

SBY : loh, bukannya mereka yang sekarang bekerja di departemen dulunya juga mahasiswa?kita kan ga tau kalau mereka dulunya juga termasuk orang2 barisan depan saat demo? Justru mahasiswa itu lah yang nantinya melanjutkan pemerintahan ini…

KBRI : Tapi pak (dengan wajah sedikit memaksa) para mahasiswa apalagi presiden mahasiswa nya, mereka ga punya spatu lain selain kets, clana bahan oge teu aya, da biasa make jins, mereka teu bisa asup pak…punteun weee, lamun teu bisa memenuhi kriteria mah, apalagi kriteria pribadi sayyaaaah…

SBY : Sebentar, saya terima telp dulu

Kondisi heniiiiiiiiiiiiiiiing menunggu Pak SBY lagi terima telpon

SBY : Yasudah, kalau penilaian kalian begitu, mending saya tidak jadi kunjungan ke KBRI, mending saya ngurusin bencana aja, saya baru brangkat sore nanti dan langsung ikut G20, saya inginnya adil…kalau ketemu, ya ketemu sama semua kalangan, dari pada nanti saya di salahkan pas di akhirat,mending saya nggak ketemu sekalian.

KBRI : (Kecewaaaaaa tiada tara), yaaaaaah urang nggeus mek-ap ke salon ieu teh, meuni teu jadi ketemuan teh.

SBY : Udah ya, saya lagi sibuk ni..salam buat Presiden Mahasiswa nya ya..kalo ga salah dulu saya sudah ketemu di Jeju, waktu itu si dia masih belum jadi presiden, di marahin lagi sama protokoler saya gara2 dia mau ngelurusin barisan. Maaf ya dek presiden. Tolong kasi tau juga, kalau nanti mudah2an dek presiden bisa ketemu saya (saya yang menjamu) di saat gala dinner di Istana pas acara INTERNATIONAL SUMMIT. Mereka itu justru orang2 penting/ para ilmuwan yang harus dihormati dan dihargai. Sampai Jumpa di Gala Dinner dek presien.

KBRI : nanti disampaikan pak

Demikianlah percakapan yang terdengar…weeeeeeeeew…disaat semua orang sibuk mempersiapkan diri untuk bertemu orang No.1 ini, para teman2 pekerja, dan lainnya, sementara para “mahasiswa biasa” tidak diundang sama sekali, jelas sudah, kalau lembaga kecil mahasiswa ini tak dipandang bahkan dengan sebelah mata pun tidak oleh mereka para petinggi Indonesia di Korea….

Wahai “mahasiswa biasa” kalau mau bertemu SBY ada 2 cara menurut saya :

1. Melamar menjadi PNS di departemen dan dapet beasiswa sekolah di salah satu univ di Korea

2. Teruslah berkarya, menjadi duta terbaik bangsa dengan menjadi ilmuwan/memajukan pendidikan, dan SBY akan menghargai kalian dengan hasil terhebat yang pernah kita hasilkan.

Pak Presiden yang terhormat, mental bangsa kita masih terpuruk, nepotisme masih berlaku dimana2…kekecewaan menumpuk akibat kekanak2an sifat sejumlah orang, sistem yang ntah kapan bisa berubah….aaaaaaah., meski demikian, kami dapat rasakan kehadiranmu hari ini Pak. Sampai jumpa saat Gala Dinner nanti di Jakarta. dan dengan bangga akupun akan berpidato di depan orang tua dan adik2ku layaknya Obama :

“Istana ini begitu megah, tidak pernah terpikir oleh saya, jika saya memasukinya dan berada disini bersama2 para tokoh ilmuwan Indonesia dan juga Pak Presiden”

(catatan kecil presiden)

Advertisements