Sinar mentari pagi terselip dari celah salah stu jendela penumpang yang tengah bahagia menyambut mentari. Telunjuk kanan dan jemari tangan kirinya sibuk berkolaborasi memutar lensa tuk dapatkan sudut yang pas lantas memencet tombol disudut kanan sebuah kamera. Sementara kelopak mata yang sedari tadi memanas dan coba tahankan pancaran sinar yang menrpanya akhirnya menyerah dan mencoba kenali sekitar dengan membuka mata dan membenarkan letak selimut yang masih setia menghangatkan sebagian tubuh.

Tak lama coba mengenali sekitar dan melirik ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangan kananku, dengan pasti walau dengan penglihatan sedikit samar, jarum2 itu menunjukkan pukul 03:50am. Seharusnya ini dini hari, tapi sang surya seolah tak sabar tuk perlihatkan senyum keceriaannya. Akupun bergegas menyapu sebagian tangan dan wajahku dengan tumpukan debu yang selimuti setiap permukaan kursi, merapikan selimut dan menutup sebagian tubuhku dengan syal hijau. Kuangkat kedua tanganku dan mengucap takbir ku dalam shalat subuh. Meski mentari tlah bersinar, yaaaaah..hanya sang khaliq berhak tentukan diterima tidaknya ibadahku pagi ini.

Usai bergelut dengan rangkaian pertemuan singkatku dengan kekasih abadiku, akupun mengguncang tubuh mungil disebelahku yang masih terlelap. “Kariin…bangun riin, subuh…udah telat nih, udah terang” cobaku sambil terus mengguncangnya. Mungkin ia berfikir ada gempa yang begitu kencang hingga tubuhnya terguncang cukup hebat. Dengan mata yang masih setengah tertutup iapun lantas melumuri sebagian tubuhnya dengan sentuhan debu yang diperolehnya dengan menyapukan tangannya ke sandaran kursi. Lantas berkomunikasi dengan sang khaliq, tampak bibirnya sibuk membacakan doa2 yang dimohonkannya dan ditutup dengan tangan yang menyapu wajahnya. Amiin.

Clarinta, ya itulah nama gadis disebelahku ini, karena keterbatasan lidahnya saat masih balita, maka ia menyebut dirinya sebagai Karin. Kami sibuk merapikan wajah, maklum masih terlihat “muka bantal” julukan bagi mereka yang wajahnya terlihat baru bangun tidur banget. Sibuk merapikan kerudung dan bergantian ke toilet untuk memberikan aroma kesegaran di rongga mulut.

Sulit membayangkan dan seolah masih tak percaya dengan orang2 sekitar yang juga tampak sibuk mencoba merapikan pakaian dan wajah mereka, ada yang sudah sibuk mengeluarkan kamera maupun alat perekamnya masing2…

Dear passangers, in a few mnutes we will arrived and landed in Incheon International Airport of South Korea. Please straighten your seat and fasten your seatbelt. Please be sure to take all of your belongings.” suara lembut sang pramugari terdengar renyah menyapa telinga dan kamipun menghentikan pembicaraan seketika. Tiba-tiba saja tangankupun meraih tangan Karin, kami berpegangan erat lantas menutup mata ” Yaa Allah, KAU telah mengantarkan dan berikan kesempatan tuk menghirup udara tanah Ginseng” … sesuai kata Mbak Pramugari tadi, sebentar lagi pesawat dengan tajuk “Korean Air” yang membawa dua calon petinggi kathulistiwa ini akan segera mendarat dan hantarkan kami tuk mencari banyak ilmu di negara yang identik dengan Kimchi nya.

Fiuuuuuh…dengan sekuat tenaga akupun menaikkan ransel ke punggungku, dengan tas kulit coklat kesayanganku yang juga ikut terselampir dan tas kecil yang kugenggam di tangan kiriku berisi semua dokumen perjalanananku. Tak kalah dengan Karin yang juga bergegas menyelempangkan tasnya di kedua sisi tubuhnya agar terasa lebih seimbang. Cukup banyak barang yang kami bawa, kalau sebagain orang tampak berlenggang turun dari pesawat, maka kami dengan aksesoris terbanyak bak pemain lenong atau lebih tepatnya para penumpang bis antar kota saat mudik lebaran. Sudah tak sempat lagi untuk memasang kaca mata hitam agar terlihat sedikit gaya, meski sudah dibeli jauh hari sebelum keberangkatan.

“Alhamdulillah” … blees, kedua kaki ini berpijak di bumi Korea, hidung inipun seolah tak mau berbagi dengan yang lain untuk segera menghirup oksigen pertama tanah ginseng ini yang masih sangat segr dibanding ibu kota yang penuh dengan asap tebal setiap kendaraan dan asap rokok. Mengalir, dingin dan mengisi setiap lekuk paruku.

Tak teras lagi ransel yang kupikul, Karin pun berjalan dengan sangat gagah pagi itu, dengan senyuman yang terus tersungging seolah bibir ini tak lelah tuk sedikit dilebarkan. Dengan celingukan dan mata yang nanar melihat setiap sudut ruang kami terus berjalan mengitari bandara yang begitu luas dan megah dengan gaya arsitektur struktur yang tak ditutupi, “indaaaah” gumamku, tampak sempurna seperti gambar2 banguna yang slalu kulihat di majalah arsitektur luar negri.

Semua orang sibuk berkomunikasi dengan bahasa yang tak kami mengerti. Terdengar asing, namun sangat bersahabat dengan telinga kami saat itu. “kayak di film2 yang sering kita tonton ya yan” karin memulai pembicaraannya saat kami masih menunggu giliran gembolan kami berputar di conveyor. “yan” begitulah orang menyapaku bila mereka hanya menyapa dan mengambil nama akhir panggilanku. Tapi bukan Yayan, Biyan, Rayan, atau apapun, tapi “Dian”, “Diandra” ebih tepatnya.

Well, memang beutul kata Karin, smuanya tampak seperti di film2 Korea yang banyak kami tonton jauh hari sebelum keberangkatan. Bicaranya, gaya berpakaian, dandanan, semuanya tampak saling bersinergis memberikan aura yang terlihat manis membungkus tubuh.

Excuse me, do you know where is the express airport bus station?” Karin mulai mengeluarkan bahasa planetnya yang mungkin sudah cukup lama tak pernah dipraktekannya, pada seorang gadis cantik berseragam di pusat informasi. “May i know where are you going?” sapa gadis korea dengan kulit yang putih, bersih dan sangat bening (seolah mampu menerawang kapilernya) pada kami. ” We wanna go to Yeongthong-Suwon City” ujar Karin memberikan informasi sembari menyodorkan secarik kertas yang sudah kami persiapkan berisi alamat. Tampak gadis cantik itu menggerakkan jemarinya yang lentik di keyboard komputernya dan memberikan secarik kertas yang telah diberinya coretan2 untuk memandu kami “Go straight ahead and then take exit number six after that you will find ticket box in the left side, you can buy your bus ticket on that ticket box” paparnya dengan bahasa inggris yang sedikit terbata2 dan selalu diselipkan senyum kebingungannya. “Oh, ok thank you very much” akupun ikut mengucapkan kata2 itu dan bergegas ke arah yang ditunjuknya dengan mendorong troley yang sudah penuh dengan 2 koper besar, 2 koper kecil, ransel, dan beberapa tas selempang.

Sekitar 20 menit kami menunggu waktu keberangkatan bus yang akan membawa kami pada tempat tinggal kami yang baru, akhirnya bus besar dengan desain interior dan kursi yang empuk dan nyaman hadir, dan kamipun tertidur kelelahan dalam perjalanan menuju Suwon setelah menikmati jalanan kota dan sibuk mengeluarkan kamera dan hand phone untuk mengabarkan kluarga di Indonesia, kalau paru2 kami sudah berisi oksigen bersih negri ginseng ini.

(to be continued….)

Advertisements