“Biarkan wanita itu masuk” titah seorang pangeran dari kerajaan Angin kepada 6 punggawa istananya yang selalu menjaga benteng kerajaan itu, ketika ia melihat sosok wanita dengan kesederhanaan yang ia ketahui sudh beberapa kali mencoba engetuk benteng tersebut, meski tak seorangpun dapat mendengarnya.

“waaaaaaaaaah…istana ini begitu indah” jerit wanita itu dalam hati sembari sesekali menelan air liur dan menyeka tetesan keringat yang membasahi dahi dan dagunya ketika tubuh mungilnya terbenam dalam pilar-pilar istana yang menjulang tinggi.

Tampak beberapa punggawa istana dala keadaan siaga disetiap sisi istana, permadani merah yang terbentang luas membentuk baris2 beraturan menandaan disitulah kita harus berjalan, lukisan2 eksotik menhiasi setiap dinding istana dan kilauan lampu2 kristal yang menambah kemegahan istana tersebut.

“Selamat datang di istanaku, aku harap kau dapat tinggal slamanya dan temaniku disini” suara sang pangeran memecahkan lamunan gadis yang sedari tadi tak henti2nya bergumam dan berdecak kagum melihat isi istana yang tak pernah ia lihat sebelumnya.

“Istanamu begitu indah pangeran, engkau juga sangat baik telah memintaku tinggal dan menetap disini, ditengah berjuta wanita lainnya yang juga ingin dapat tinggal dalam istanamu” wanita itu membalas untaian kata yang disampaikan sang pangeran sebelumnya.

Aliran teh hangat beraroma cinta mengantarkan mereka dalam balutan perbincangan indah tuk menyelami hati dan mencari anak kecocokan jiwa. Sesekali tampak pangeran tertegun seolah menikmati setiap kata dan raut sang gadis yang duduk tepat dihadapannya.

***

Hari beganti, masa berubah, musimpun berpindah, 3 bulan sudah gadis itu tinggal bersama dalm istana sang pangeran. Kedekatan hatipun tak terelakkan lagi, bagai sosok kumbang dan putik merekapun tampak trhanyut dalam lautan cinta, dalam, dan tak tepisahkan.

Kembali secangkir teh hangat beraroma cinta di suguhkan dayang2 istana menyelingi keakraban dan syair2 cinta yang terlantun dalam tiap bait cerita. Tampak sesekali sang pangeran memanggil dayang2nya untuk memenuhi segal kebutuhan sang gadis, mulai dari menyiapkan sarapan, makan siang dan malam, menyiapkan pakaian, air mandi, bahkan sesekali membacakan syair2 cinta saat sang gadis beranjak tidur. Sang pangeran tela menitahkan patihnya untuk mencarikan kumpulan syair terbaik untuk dibacakan oleh para dayang mengantar sang gadis keperaduannya.

***

Musim kembali berganti, 4 bulan sudah sang gadis menetap dalam rutinitas istana yang serba instan dan tersedia ini. Sang pangeran begtu baik pikirnya, apapun yang gadis tersebut minta, sang pangeran akan segera memberikannya. “mengapa kau begitu baik padaku?” tanya gadis itu disela2 kerenyhan perbincangan mereka di sudut taman sore itu. “Ak menyayangimu lebih dari yang pernah kau bayangkan, aku hanya ingin ka bahagia dengan segala keinginan dan mimpimu” jawab pangeran sambil mempererat genggaman tangannya pada pergelangan si gadis.

“Pergilah, ke ruang lukismu…guru lukismu telah menunggumu” lanjut sang pangeran sembari melepaskan genggaman tangannya. Rupanya pangeran telah mencarikan pelukis ternama di negri itu untuk dapat mengajari gadis tercintanya melukis, karena ia tau melukis merupakan salah satu kegemaran gadis yang telah membuat hatinya berdegup syahdu mengiringi irama hidupnya.

Pangeran memang selalu memberikan apa yang diinginkan gadisnya, bahkan tak pernah mengusik waktu dan hari-hari sang gadis jika ia melihat gadisnya tengah hanyut bersama guru lukisnya, guru biolanya, bahkan para dayang yang tengah bergantian membacakan syair2 dari para penyair ternama. Ia sadar, gadisnya sungguh bahagia ditengah mereka, ditengah kesibukannya, ditengah mimpinya dan ditengh para dayang atau malah ketika salah satu patih sedang mengajarinya berkuda di tanah pacu. Baginya, melihat gadisnya bahagia dan menyunggingkan senyum di raut bahagianya cukup membuat sang pangeran bahagia.

***

Sang gadis masih sibuk dengan para dayang yang diajaknya berbalas syair di beranda istana, tampak beberapa dayang silih berganti membalas syair2 yang diucapkan sang gadis, tampak pula dayang yang sedang memijit pundak halusnya dan merapikan rambut nya yang berwarna agak kecoklatan. Tak sering lagi terlihat sang gadis bersama sang pangeran, karena padatnya rutinitas si gadis. Tampak sesekali mreka saling bertegur sapa dan terlibat perbincangan saat sarapan ataupun maka malam.

“Ada yang hilang dari hidupku, ada cinta yang hilang untukku” kata-kata ini terlontar dari bibir mungil sang gadis dan mengejutkan sang pangeran saat mereka makan malam. “Apa maksudmu gadisku? Aku masih menyimpan smua cintaku untukmu, bahkan aku selalu memberikamu semua yang kau inginkan. Lantas cinta mana lagi yang masih kau pertanyakan?” balas sang pangeran menatap sedih gadisnya yang seolah tampak meragukan cintanya.

“Aku carikan pelukis ternama untuk mengajarimu melukis, aku carikan kitab2 syair pilihan dari penyair ternama untuk dibacakan dayang mengantarkan tidur lelapmu, aku titahkan patih terbaikku untuk mengajarimu berkuda, bahkan aku tak pernah mengganggu waktu2 ceriamu saat kau terlibat perbincangan menarik dengan para dayang, karena aku tau, ku tak mampu menghidupkan keceriaan di perbincangan kita. Semuanya aku berikan tulus-ikhlas hanya untuk melihatmu bahagia” papar sang pangeran sambil sesekali mendongakkan kepalanya untuk menahan air mata yang kian memenuhi kelopaknya agar tidak menetes dan basahi pipinya.

Tak ada yang terdengar, hanya kebisuan, dan suara sendok yang bersinggungan dengan piring batu berlapis emas itu yang acap kali menyelingi kebisuan itu. Sayup terdengar isak tangis sang gadis, rupanya ia menahan tangisnya sedari tadi, dan akhirnya tangis itupun memenuhi seisi ruangan. Air matanya membanjiri mata dan pipi gadis itu.

“Bukan ini yang aku minta, bukan ini yang aku inginkan. Aku tau kau tidak pandai melukis, engkau tidak pandai bersyair, bahkan kaupun tak begitu pandai berkuda. Tapi aku tidak membutuhkan semuanya, aku tau kau begitu menyayangiku dan kau selalu menghujaniku dengan cintamu. Tapi bukan ini yang aku mau. Aku ingin melukismu bersamamu tanpa harus indah hasil lukisan itu. Aku ingin kau yang membisikkan syair2 indah itu di telingaku meski gelegar suaramu tak dapat hantarkanku pada malamku, aku ingin kau yang menjagaku, duduk dibelakangku saat aku berkuda meski kuda itu hanyaterdiam tertambat. Aku ingin menghabiskan semua ceritaku denganmu meski kadang aku tak mengerti cerita silsilah kepangerananmu, dan mungkin kau tak akan pernah mengerti cerita caaku membesarkan padi2 yang kutanam didesaku. Bukan cinta ini yang aku inginkan pangeranku, aku hanya ingin cinta yang kau ciptakan sendiri, tanpa harus kau minta patih tuk siapkan agendanya. Aku ingin dicintai seadanya, mengalir bagai air air yang slalu basahi stiap bebatuan di sungai” panjang paparan san gadis sambil sesekali menyeka air mata yang menetes panas basahi pipinya.

Tampak kekecewaan di matanya, begitu pula pangeran, tampak wajahnya memerah menahan segala rasa yang tak jelas menyambangi hatinya malam itu. “Aku hanya ingin yang terbaik untukmu gadisku, aku ingin kau sempurna, aku slalu berusaha memberimu kesempurnaan, meski kini ku tau ternyata cintaku tak sempurna dan aku masih belum sempurna mencintaimu” kata-kata pangeran mengalun menemani angin malam yang juga berusaha memenuhi ruangan dai sela-sela jendela istana.

“Aku menyayangimu pangeran, aku mencintaimu, aku bahkan sangat bahagia tinggal di istanamu, tapi ternyata sgala keindahan ini tak membuatku merasakan cintamu, segala pelayanan yang kau berikan padaku melalui dayang, punggawa dan patihmu juga membuatku hampa, karna engkaulah sebenarnya yang aku mau. Aku tidak menikmati hidupku, aku seolah bagai robot yang diharapkan sempurna” gadis itu kembali melanjutnya kata-katanya, namun kali ini ia tengah berjongkok dihadapan sang pangeran yang tertunduk hanyut dalam isak tangisnya.

Tangannya meraih wajah tampan pangeran dan menghadapkannya tepat di depan wajahnya. Matanya seolah memberontak mencoba merasuki mata sang pangeran dan mencari jawabnya, namun ia tak menemukan jawaban apapun. Disekanya air mata yang masih menetes panas, di tatapnya lekat-lekat wajah tapan sang pangeran, dan akhirnya ia mendaratkan ciuman hangatnya di kening pria yang disayanginya itu. Pelukannya pun tampa begitu erat, hingga ia melepaskannya, dan kembali menatap sekeliling, menikmati setiap keindahan istana, dan berjalan menuju benteng yang tak pernah tebuka, meninggalkan sang pangeran.

“Buka benteng itu punggawaku, biarkan gadisku mendapatkan kebahagiaannya dan jangan pernah tutup gerbang itu, biarkan tetap terbuka, biarkan siapapun yang ingin melihat istanaku, dan akupun akan mencoba tuk mencari cintaku, cinta yang slama ini ternyata salah, cinta yang ternyata telah membuatku kehilangan gadis yang aku cintai” titah sang pangeran pada punggawanya.

“Pangeran, tak semua orang suka untuk dilayani dengan cara seperti itu, biarkan cintamu mengalir, tanpa harus sempurna, dan kau tak perlu menjadi sempurna untuk mencintai siapapun, namun kau perlu tunjukkan cintamu sendiri tanpa perantara, kau tak perlu takut melakukannya, lakukanlah apa yang ingin kau lakukan” suara penasihat kerajaan angin menyambangi telinga sang pangeran saat ia berdiri dan mendapati gadisnya menghilang dalam gelap malam.

Advertisements