Seorang wanita dengan raut yang menggambarkan keceriaan, menapakkan kedua kakinya dengan pasti di sebuah negri bertajuk ginseng. Perlahan, ia mencoba mengisi tiap lekuk parunya dengan udara segar yang dihirupnya. Sorot matanya seakan tajam menyambar tuk dapati sebuah kata “Incheon Airport”. Senyum manis pun menghiasi rautnya lantas menghilang dalam sebuah bayang.

Jemari-jemari yang berusaha menggenggam lintingan rok, kini basah oleh keringat dingin…bergetar setiap tubuhnya seolah melihat sosok tak berpijak. Ia mencoba berlatih untuk menyuarakan kata demi kata yang telah bertandang diingatannya semalam. Kata-kata dengan huruf berlekuk tak beraturan dan artikulasi yang aneh…

Lirih, dan sangat halus suaranya membuyarkan setiap lamun. “mmm, Anyeonghaseyo, Chonen Vicka Imnida…Chonen Indonesiaeso wassoyo, Mannaso banggawoyo, kamsahamnida”. Ia coba perkenalkan dirinya dengan kata2 itu, namun sangat lega terlihat. Hingga suatu masa, untaian kata itu malah seolah memaksa tuk keluar dengan sendirinya, begitu sempurna.

Semilir angin dingin menyapa kulit halusnya, dan membawanya kembali ke tanah ini. Namun kini ia bukan kembali sebagai seorang petarung di ruang kelas, namun kembali sebagai wakil jutaan nyawa di kathulistiwa tuk hantarkan amanah antar dua bangsa.

Pergantian musim dan generasi,
Kini sang kathulistiwa tak kuasa menyembunyikan rasa rindu hatinya. Kembalilah … belai aku, rawat aku dan bangunlah berjuta prestasimu dinegriku. Jeritan ini pula yang mengetuk lirih pintu hatinya.

Berat, sedih …
Tanah ginseng inipun seolah enggan melepasnya. Angin, salju, dan serpihan dari setiap sakura yang berguguran, seolah ingin merangkul dan tak membiarkannya berlalu. Cairan hangat terasa basah menyapu pipi dengan senyum yang menghiasi. Ya, ini bukan akhir, tapi masa dimana kita terpisah untuk kembali bertemu dalam tautan kathulistiwa.

“terimakasih” mungkin menjadi untaian kata yang terangkai indah dari setiap kelu lidah kami, atas setiap waktu yang terlewat dalam hangat canda dan setiap kata yang kau suarakan untuk menuntun kami…

Dirimu akan tetap tinggal di hatiku, kami dan setiap semilir angin tanah ginseng

(perpika 09/10)

Advertisements