Kehampaan kota sunyi membisu
Begitu dingin dengan tebing kasar membentenginya di sisi
Tak ada jiwa yang melintas,
Apalagi suara yang hancurkan kekerdilan kota
Seonggok daging menggelepar setengah nyawa
Kepaknya menghantam keras bibir tebing terlapis debu
Permukaan kasar, debu, tajam menandakan keperkasaan tebing itu
Namun hanya diam mendingin meski seonggok daging terkapar membenturnya
Tetesan merah merambat pelan menutupi tiap debu
Bersatu meski tak solid, namun cukup kental
Lama ia menggelepar setengah nyawa dalam dingin dan kebisuan kota
Hingga terdiam, dan ikut membeku,
Tampak sosok putih, bening dan bercahaya mengepul dan menghilang dalam balutan udara
Meninggalkan tubuh dingin itu disisi jurang berlumur debu
Tersungging senyum, ikhlas dan raut lepas menghantarnya
Tersapu dingin kota yang kian mencekam
Hering hitam dengan sayap menghampar luas
Menyelimuti kota, hitam, dengan bayangan menyelimuti
Gelaaaaaaap, senyap, dengan sedikit cahaya kunang2
Pasti dan habis ia melahap setiap gurat
Lantas menghilang dengan satu kepakan sayap
Advertisements