HATI, hanya seonggok daging yang melengkapi diri setiap insan

HATI, slalu membisu dan seolah tak ingin menyuarakan apapun

membenamkan dirinya dalam bongkahan-bongkahan karang di lautan

HATI, kan memberikan warna yang begitu indah, gemerlap,

bagaikan kembang api saat sang Khaliq memberikan anugrah indah

bertajuk CINTA

HATI, senyummu begitu manis hingga hujanpun enggan tuk basahi bumi

Tajam matamu selalu menatap ramah pada setiap yang menghampirimu

 Gelombang suaramu begitu kuat kurasakan meski kadang ku tak mengerti

apa yang harus kulakukan untukmu, karna getaran logika selalu berbanding terbalik denganmu

Apa mungkin kau tak mampu berdiri dan berlari?

Hingga kau tak sanggup menyeka setiap air mata yang menetes panas..

Apa mungkin kau tlah hilang rasa hingga kau tak lagi bereaksi,

Kau hanya terdiam, mati…

Tapi HATI, meski berjuta rasa dan gejolak yang kau berikan,

tak satupun mampu mengubahnya menjadi realita…

Mengapa kau begitu lemah…

Apa mungkin aku yang buta, hingga ku tak dapat melihat setiap tetesan air matamu?

Apa mungkin aku yang tuli, hingga tak mampu mendengarkan setiap jeritanmu?

Apa mungkin aku yang bodoh, hingga membiarkanmu tanpa memberi keadilan?

Masih terekam jelas, saat kita bersama..

Menari, tertawa saat anugrah terindah menyapamu, dan aku membantumu tuk mengekspresikannya..

Kita terhanyut dalam balutan ombak yang menelan kita dalam lautan cinta

Hingga kita terdampar di pinggir pantai dalam keadaan hancur…

Kita harus membentur karang, saat ombak mencampakkan kita…

Sirip-sirip ikan yang menggores ketidak berdayaan kita…

Segalanya tlh ku lakukan untuk mengembalikanmu

Namun kau seolah tak ingin hidup lagi..

Kau terlarut dalam kesedihan dan kehancuranmu

Sementara aku… Aku masih tak mampu mengumpulkan setiap serpihanmu

Ku susun setiap puing yang kutemukan tuk membuatmu kembali

Tapi kau memberiku isyarat, bahwa kau tak dapat hidup, dengan 1 puingmu yang hilang

Lantas apa yang harus kuperbuat untuk menghidupkanmu kembali?

Kembali ku bergumul dengan ombak, berharap kan temukan 1 puingmu yang hilang

Kau hanya terdiam, bisu dan hilang rasa di sisi pantai tanpa nyawa

Berlari tanpa lelah seperti Siti hajar antara shafa dan marwa

Akupun terus mencari pertolongan untuk membasuhmu dengan CINTA

Hingga hadir seorang musafir yang membawa semangkuk zam zam

Ya, zam zam tuk di balurkan padamu…

Untaian tasbih tlah kuhadiahkan dan ku kirimkan untukmu…

Tapi kau seolah tak mau mendengarnya dan membiarkan dirimu terkunci rapat dengan luka yang masih menganga

Kau tak lagi menyapa setiap sosok yang menyapamu

Kau hanya tersenyum tanpa makna

Membiarkan stiap sosok menjengukmu …

Semua pasrah…begitupun aku..

Berharap sang Khaliq kan menyembuhkanmu, menutup dan mengeringkan lukamu

CINTA, yang dulu mampu memberikan nyawamu..

Seolah tak lagi berpihak padamu

Semakin kau mengejarnya, smakin ia berlari sekencang-kencangnya

Aku merindukanmu…

Saat-saat dimana syaraf otakku memberikan sinyal tuk apresiasikan hidupmu

Saat-saat dimana urat nadiku terasa hangat dengan aliran darah yang kau alirkan

Saat-saat dimana tiap detik-detakmu mampu getarkanku dan hadirkan senyum di wajahku

Saat-saat dimana ku mampu merasakan kesempurnaan cinta

Tapi kini,

Kau hidup tanpa nyawa..

Kau biarkan deburan ombak menyeretmu

Hingga kau tenggelam dan terkubur di lautan

Hingga kau akan pergi dengan semua luka di tubuhmu

Sementara aku…

hanya mengingatmu…

ku sempat memilikimu..utuh

(02:17pm)

Advertisements