Sendiri di tengah dinginnya tanah ginseng

Bercanda sambil memandangi sosok wajah

Berusaha berlari dan bermain dengan eksponen jiwamu

Tak terasa ada yang berbeda, saat sinus dan kosinus hatiku bergetar

Dan membentuk irama sendiri yang tak beraturan dengan amplitudo yang berubah-ubah

Kurasakan diagonal ruang hatiku Bersentuhan dengan diagonal bidang hatiku

ya, bersentuhan, bersinggungan sangat halus

Jika kau mengatakan bahwa cintamu dapat kau kuadratkan

Maka aku mampu membuat eksponensial cintaku hingga limit menuju tak hingga untuk mu

Bahkan teorema empat warna pun tak mampu mendefinisikan apa warna cintaku

Cintaku bukan fungsi diferensial, karena ia bukan bilangan real

Namun cukup real untuk dirasakan dan mampu memenuhi setiap volume hatimu

Kaupun akan menemukan banyak modus dalam susunan bilangan cintaku

Seluruh yang kupunya tlah kususun dan kutaruh dalam himpunan enumerasi

Tak ada lagi himpunan yang kosong

Semuanya telah kau isi dan kau penuhi Dengan debit yang kencang hingga membuncah

Dirimu begitu kuat dalam persamaan kuadrat cintaku

Hingga kau seolah bagai akar-akar X1 dan X2 dari persamaan kuadrat cintaku

yang tak pernah dapat kutemukan hasil diskriminannya

meski vektor2 hatimu berlawanan dengan vektor2 hatiku,

sang khaliq mampu mempertemukan keduanya dalam resultan-NYA

Keberadaanmu menempati kuadran pertama di hatiku,

dimana semua nilai sinus, cosinus, dan tangen adalah positif

Entah dengan teorema apa kusingkap logika dihati ini

Beribu-ribu matriks berukuran 4×4 tlah kucoba

Ntah grafik apa yang melukiskan keadaan hatiku saat ini

Kucoba lewati tiap baris geometri yang tak hingga jumlahnya

Kucoba telusuri tiap barisan aritmatika yang tak terhitung banyaknya,

sampai limit yang tak terhingga batasnya

hanya tuk temukan hubungan trigonometri cinta

kau, aku dan DIA

Advertisements