Seorang putri kecil terlahir dari pasangan Hj. Dra. Rr. Rinie Noerngesti dan H. Drs. Irsyad Tanjung, M.Si. tepat di pertengahan tahun setahun setelah gunung galunggung meletus, 6 Juni 1983 dibantu seorang bidan cantik yang bernama Hety (sayangnya bukan Tante Hety Koes Endang) di sebuah kota yang cukup ramai dan terkenal dengan gadis2 cantik dan Factory Outlet nya. Ya, apalagi kalau bukan Bandung.

Putri kecil dengan rambut yag tumbuh lokal semaunya (ga rata maksudnya) dengan berat 3kg dan kulit sawo mateng, mateeeeeeeeeng banget hehehe ga juga siiii…di beri nama Elvira Fidelia Tanjung dengan panggilan manis Vira. Kenapa pake TANJUNG? Kata papa si, karna doski anak pertama yang lahir dari seorang papa yang masih memiliki darah TANJUNG dari Tapanuli Selatan (Sibolga) bukan TANJUNG yang juga ada di PADANG. Kata mama siiiii putri kecil dengan nama ELVIRA FIDELIA TANJUNG ini memiliki arti ” Seorang Putri Turunan Tanjung yang Manis dan Pintar” hehehe begitulah harapan dari kedua orang tua saat memberi nama putri pertama mereka yang ternyata lahir tepat setelah setahun hari pernikahan mereka. Yaaaa bisa dibilang lahirnya si cewek kecil, mungil nan rupawan ini sebagai hadiah sang KHALIQ di ulang taun pertama perkawinan mereka. Hehehehe, makanya kalo ulang taun, jadinya dirayakan tigaan, si cewek kecil manis nan rupawan ini tadi dan kedua orang tuanya.

Vira, gadis kecil, lugu dan sudah gemar menabung sejak kecil ini, hidup di ligkungan keluarga yang cukup laaaah, gak melarat2 banget, ga kaya raya kayak pak presiden juga. Masih setia dan akrab bercengkrama dengan sejuknya udara Bandung persisnya di daerah Gatot Soebroto, kalo liat peta Bandung sekarang siiii persis di depan BSM alias Bandung Super Mall.

Masih dengan rambut seadanya yang tumbuh lokal menghiasi bagian demi bagian dari kepalanya, ternyata gadis kecil ini di kasi kesibukan untuk mengenal dunia hidup di Play Group di umur 3 taun. Kecepetan kali yaaaaa buat sekolah??? tapiiiiii mau gimana lagi?doski selalu merengek dengan sang bunda untuk disibukkan dengan mengenal dunia luar, selain doski juga suka sibuk ngoceh sendiri saat main boneka sendiri (bukan autis loooh)…

Ternyata, vira sag gadis kecil nan rupawan ini, selain pernah ketimpa motor papanya yang di parkir di depan rumah karena keingin tauannya yang besar untuk membunyikan klakson, juga ga mau kalo pergi ke Play Group dianterin tantenya. huuuuuu gaya banget dah, sok dewasa dan berani, padahal para penculik2 yang slalu mengintai dan ingin menculiknya karna kerupawanan-nya (hehehehe) berkeliaran di luar sana. Terpaksalah si tante bermain petak umpet kayak detektif2 yang di film2 (mengikuti sang gadis kecil, dan kalau sang gadis melihat kebelakang karna merasa ada yang mengikuti, sang tante pu bersembunyi di balik tiang atau menutupi wajahnya dengan koran yang di bawanya dari rumah) yaaa elah, padahal kan si Vira juga apal sama sendal tantenya yang juga suka di pinjamnya kalo lagi main ibu2an, biar kliata tinggi karna ada hak nya.hehehehe… Begitulah kisah detektif2an ini berlangsung selama setahun.

Ternyata, saat rambutnya sudah mulai rata menutupi kepalanya, tepatnya pas umur 4 taun, mereka sekeluarga harus pindah ke MEDAN dimana semua keluarga PAPA ada dan tinggal.

So’ sejak umur 4 taun doski dibesarkan di Medan, dengan segala cinta kasih sang orang tua, atok dan andong (panggilan sayang untuk kakek dan nenek) juga om dan bunde2 (tante) nya, berikut keluarga besar lainnya yang tak lain sebagian besar berasal dari satu departemen hehehe departemen pendidikan.

Papa menjabat di DEPDIKNAS SUMUT, Mama adalah seorang Pahlawan Tanpa Tanda Jasa di SMU Negeri 3 medan yang juga menjadi SMAnya. Kakek alias Atok adalah Wakasek di SMA yang sama dengan mama. Andong alias enek adalah seorang Guru di madrasah. dan keluarga lainnya sebagian besar menjabat di DEPAG, guru di sekolah2 lainnya, ada yang guru di MTs, MAN, SMP 2, SMA KISARAN, dan ada yang jadi Rektor dan dosen2 juga ada..pokonya legkaplah..

Nah, kalo si Vira yag mulai tumbuh menjadi gadis Medan yang masih menggunakan istilah2 jawa dan sunda di rumahnya ini sekolah di TK PERTIWI I Medan pas umurnya 4 taun. Karna ga betah dan udah bisa baca – tulis dan steno juga hehehe umur 5 taun udah langsung masuk SD di salah satu SD negri deket rumah namanya SDN 060843, abis gituuuuuu, sempat memegang juara 1 NEM tertinggi untuk se-kecamatan (hehehe) blom sampe tingkat propinsilah, masih jauuuuuuuh dan melanjutkan di SMP Negeri 1 Medan yang terletak tepat di sepan Hotel TIARA medan yang kabarnya masih kepunyaan keluarga Cendana. Setelah itu, karna anak pertama yang masih harus banyak di jagain ma orang tua (katanya sih biar berhasil dan terkontrol) disuruh masuk SMA N 3 Medan (dengan terpaksa) karna si gadis pengennya masuk SMAN 1 (biar baregan sama genq SMP nya dan masih bertemu Tukang baso langganan pas SMP karna daerah jajahan si mas Baso masih sama).

Yaaaaa…akhirnya, SMA 3 ini jugalah yang telah memberikannya banyaaaaaaaaaaak banget pengalaman dan warna2 hidup. dari mulai persahabatan, geng2an, pengalaman organisasi, berantem sama guru, ngutang di kantin, kena strap sama mama sendiri, dan juga percintaan (cieeeee) … ternyata gadis kecil yang dulunya rambutnya lokal ini tumbuhnya, menemukan cinta pertama kalinya di SMA ini setelah akhirnya doski menutup ke-lokal-an rambutnya dengan kerudung yang terselubung. Makanya jadilah dia gadis manis berkerudung putih (karna warna putih duang yang boleh di pake ke sekolah) hehehehe…

Lulus dari SMA taun 2000 dengan membawa segenap cintanya, ternyata darah Bandung membawanya kembali ke tanah kelahirannya untuk melanjutkan kuliahnya di Univ yang dulunya juga Univ. papa dan mamanya hehehe di UPI Bandung. Ternyata, UPI ini adalah salah satu spot menarik tempat bertemunya mama sama papa dulu hehehe. Dan akhirnya si anak balik lagi ke univ yang sama dengan jurusan Arsitektur untuk jenjang Diploma. Karna kurang dengan jenjang diploma, akhirnya melanjutkan dan menamatkan S1 nya dengan jurusan2 yang berbeda, T. Industri di salah satu perguruan tinggi ang cukup terkenal di Bandung (terkenal apanya duluuuu??? jangan salah) tapi pokonamah terkenal ajalah, lamun ditaroskan ka barudak bandung mah pasti ngartos, mang angkot, apalagi, apal luar kepala.

Nah, ada apa dengan kuliahnya?
nanti di sambung lagiii …. sang penulis akan berbaring sejenak untuk merasakan hangatnya kasur meresap ke setiap kapiler darah di dinginnya kota SEOUL malam ini…

Me, My beloved Mom and Cousin

Advertisements