UNTOLD

What can I say about you?
When there’s so much to say
I knew you for 16 months now
And those months knowing you
Are the best moment I ever had
 
I always knew that someday
We would have to say goodbye
We were suppose to have one last month together
The last month that we would have fun
 
But now, I see that the time has come
And leave us behind
Soon…
We would grow apart and
We would soon just become a memory
 
I just want you to know
That you will always be forever  in my heart
 
Although this goodbye is just temporary …
This is the hardest goodbye
For me to say
 
Wipe the tear off the cheek
And please, for the last time
Draw your beautiful smile
 
For the last time
Hug me goodbye
Even though just through the wire
 
With thousands of tears running down my face,
This untold poem is done
 
(Jinju, 9 January 2013, 09:08pm, combustion Lab.)
 
This step brought me to you in the soul of
Bandung City Indonesia, November 2003
There wasn’t many people that approached you,
You just hanged in the corner of that cozy place
 
9 years ago, my mom gave you as a present
After a month I‘m lying sick
9 years ago, I’m yours and you are mine
 
From that moment, we always together
Yeah, me and you that always stays next to my heart
You feel what my heart’s feel
As if you beat as my heart is beating,
and dance with the same rhythm
 
9 years, enough to make me fall in love with you
9 years, enough to make my love bigger
9 years, you have enough time to know my heart so deeply
 
But now,
You are not here anymore,
There is no you next to my heart,
Just the empty space …
I’m searching you a new home
Home with a new heart
 
It doesn’t mean that I don’t love you anymore
But I want you to guard your new home,
Your new heart
 
Don’t worry
I’ve choose a good heart for you carefully
She has a beautiful heart and a big enough place for you to stay
It would be your job to warm her heart when winter shaded in the corner
 
When you feel strange inside your new home,
Just remember your previous home, my heart
Because me and her, we have the same heart
I even could sing with the rhythm of her heart
Even though in a silence song, without words
 
Love your new home
Love your new heart
Because we’ll always together
 
Me, My heart, You and Your new home

The Crowded Place

All alone in this crowded place
My eyes meet one…another,
They don’t  see me for what I am
They see the smile on my face
The lies that I’m holding, in order to keep myself together
They don’t  know the pain I feel
 
Their smile is real.
 
So I am alone in this crowded place
Waiting for someone to see through
To save me from myself from the loneliness…
that has overcome me
controlled me
 
I am a slave to this feeling
Waiting for something better
Suffering in myself
 
(At Jinju Lantern Festival 2012 S. Korea)

Matahari dan Hujan

Aku hanya bisa tertunduk tiap kali retina kita beradu. Tatap tajam mu selalu mampu menyeruput ku bulat-bulat. Sementara aku, hanya terdiam dan tenggelam di dalam nya.

“I love you Nay” ucap mu lirih sembari mengisi setiap celah kosong jemariku dengan jemari kekar mu dan masih dengan tatapan yang mengejawantahkan beribu makna.

“I love you too Bei” jawabku dalam tatap yang tak jelas arah nya.

Kau terus memandangku, kita duduk berhadapan di sudut sebuah cafe sambil menikmati kebocoran langit sejak 1 jam yang lalu. Tatapan mu menjelajahi seluruh wajah ku. Kaki kita beradu, dan jemari kita bersatu. Ada kehangatan yang selalu aku dapat di sana. Kehangatan yang hanya kudapati dari seorang Betran. Lelaki tampan, berkulit sawo matang, sopan, dengan gingsul yang menyeringai tiap kali ia tersenyum.

Aku tahu, tak seharusnya ini terjadi. Aku juga tahu dosa ku pun bertambah tiap kali aku menyelami dua samudra ini. Otak ku tak lagi mampu mencermati situasi gila ini. Hati bak seekor predator yang dengan buas melahap habis puing-puing otak. Ya, hati memang pemenang nya, ia mendapatkan apa yang ia mau. Ibarat sepucuk daun, aku tak mungkin memilih hujan dan matahari. Bagaimana aku memasak makanan ku, jika setiap hari harus hujan? dan bagaimana aku bisa tumbuh jika aku kering saat memilih matahari.

“Nay, kamu melamun?” suara berat mu menyeruput daun telingaku.

“Eh, enggak kok. Kamu mau pesen kopi lagi Bei? atau mau nambah cake?” jawabku sembari berusaha mengusir sebentuk paras yang perlahan melamat di ujung pikiran ku.

“Nggak, aku udah cukup. Kamu kenapa sih? Ada masalah?” lagi kau bertanya dengan tatap mata yang mencari jawab dari ku.

“Nggak kok, aku cuma lagi mikir, aku pasti bakal kangen kamu Bei, kalo kamu berangkat ke Italy nanti” ucapku, kali ini dengan merekatkan jemariku di lengan berselimut kaus biru dongker yang aku beri sebagai hadiah ulang tahun mu tahun lalu.

“Aku juga pasti kangen kamu Nay”

“Kalau kita menikah sebelum keberangkatan ku ke Italy gimana? So’ kita ga bakal jauh-jauhan. Please Nay, will u marry me?” kali ini rajutan kata-katamu seolah mencambuki hati ku.

Bagaimana mungkin aku menikah dan menyerahkan seluruh hidupku untuk seorang Bei? Aku tau, hati ku pun tau, Bei adalah pria sempurna yang aku kenal. Kehangatan yang selalu menyelimuti hati ku dari Bei, kadang terguncang hanya dengan sebuah senyum simpul yang selalu mengalirkan arus lemah di jantung ku. Hingga ada debaran-debaran dengan energi yang luar biasa, saat senyum itu datang menyapa.

Matahari dan Hujan, dua keadaan yang tak dapat ku pilih. Hingga keduanya hilang, dan aku pun perlahan mati dalam kerakusan hati.

 

Bercinta dengan hujan

Tubuh ini masih duduk mematung di hadapan sebuah monitor flat yang dibagikan universitas sebagai hadiah kepada setiap laboratorium yang ada di kampus tersebut. Beribu kata tak terucap, beribu tanya [pun] masih tak terjawab. Sekantung rasa yang tak jelas menggelayuti hati yang kian rapuh menua. Masih, tak bisa diejawantahkan dalam kata maupun rupa. Sedih, yang juga masih tak jelas juntrungan nya.

Langit hitam menyelimuti Jinju dengan tak satu pun bintang menghias. Langitku bocor, arakan awan tak mampu menampung nya, hingga tumpah ruah memerawani tanah tak berbatu.

Dalam satu tarikan nafas, kudorong kursiku menjauhi meja kerja laboratirum yang mulai tampak lengang. Menarik gagang pintu dan mendapati hujan ku di ujung lorong. Tak banyak yang kulakukan, hanya diam mematung dan membaui senggama hujan dan tanah.

Jiwa ini kosong Tuhan…banyak yang tak kumengerti, termasuk sekantung rasa yang masih terus menggelayuti hati renta ini. Sedih, meski aku sendiri tak tahu kesedihan apa ini??? Menyesap dingin, ternyata kelopak mata ini pun tak mampu menampung debit air mata yang membanjiri pipi.

Masih, membawa sekantung rasa di hati, dengan air mata ku berjalan dalam hujan. kali ini hujan tak hanya membelai kulit ku. Tanah, dan aku, kami bercinta dengan hujan di ujung sebuah kampus tua tanah Ginseng..